Gajah Ngidak Rapah Wahyuang Keyong, Beraroma Lingkungan Hidup Hingga Politik

Pementasan Wahyuan Keyong Gajah Ngidak Rapah di Taman Budaya Jawa Tengah. Foto: Leksono

SURAKARTA, SUARASOLO.id

Wahyuang Keyong pimpinan Ki Jantit Sanakala  mementaskan Gajah Ngidak Rapah di Pasar Raya Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa (21/07/2026). Wayang dengan tokoh binatang ini menjadi menarik karena berkisah tentang kehidupan binatang, alam, hingga diramu dengan kondisi perpolitikan masa kini.

“Gajah Ngidak Rapah sebagai kisah tentang cinta alam, kehidupan binatang, hingga suasana perpolitikan terkini,” kata Ki Jantit Sanakala kepada Suarasolo.id, ditemui usai pentas Seni Pertunjukan.  

Gajah Ngidak Rapah bercerita tentang gajah yang sudah berusia tua jajan jalan di tengah hutan walau sudah sore (surup). Keyong yang melihat gajah menyata Gajah, sudah tua harusnya menikmati masa tua, tetapi malah keliling hutan.

Kancil pun nimbrung, Gajah itu mencari apa, sudah tua kok malah mencari perhatian. Kancil menasehati Gajah, boleh keliling hutang tetapi jangan merusak tanaman yang ada.

Usia Gajah yang sudah tua saat kembali malah kehilangan arah, menginjak-injak tanaman yang ada, jadi rusak.

“Kuwi jenenge Gajah ngidak rapah,” kata Keyong kepada Gajah.

Terjadi pertikaian, Kancil dikejar Gajah, tertangkap Kancil akan diinjak. Datang munyuk penthor. Munyuk berkata kalau Kancil itu saudara dalam perhewanan. Mereka tetap bertengkar. Lalu Keyong menengahi.  Minta solusi juga ke penonton. Keyong menyimpulan, ini semua akibat Gajah Midak Rapahe.

Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *