Foto : Dokumentasi
SOLO, SUARASOLO.id – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta menyesalkan pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengaitkan profesi wartawan, jurnalis, pengamat, hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dengan istilah “londo ireng” .
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta terpilih, Sri Hartanto, mengkritisi pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut masih adanya “londo ireng” dengan mengaitkannya kepada sebagian wartawan, jurnalis, pengamat, maupun lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Menurutnya, narasi tersebut berpotensi memunculkan stigma negatif terhadap profesi wartawan dan dapat mengganggu iklim kebebasan pers.
Sri Hartanto mengatakan bahwa kerja jurnalistik yang berlandaskan fakta dan data di lapangan tidak dapat dimaknai sebagai bentuk pengkhianatan terhadap negara ataupun kepentingan asing.
Media bekerja berdasarkan fakta di lapangan. Sikap kritis terhadap berbagai persoalan, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Koperasi Desa Merah Putih, maupun persoalan hukum, ekonomi, sosial, dan isu publik lainnya merupakan fungsi kontrol agar pemerintah dapat bekerja lebih baik, bukan bentuk pengabdian kepada bangsa asing,” kata Sri Hartanto, Jumat (24/7/2026).

Menurutnya, retorika yang mengaitkan kritik media dengan istilah “antek asing” maupun “londo ireng” dikhawatirkan dapat membentuk persepsi keliru di tengah masyarakat terhadap profesi wartawan.
Ia menilai, apabila narasi tersebut terus disampaikan, masyarakat dapat memandang jurnalis sebagai pihak yang memusuhi negara atau bahkan sebagai pengkhianat.
“Jika logika seperti ini terus dimasifkan, masyarakat bisa menganggap tugas wartawan sebagai sesuatu yang jahat atau bertentangan dengan kepentingan bangsa. Kondisi itu berpotensi meningkatkan ancaman terhadap keselamatan jurnalis dalam menjalankan tugasnya,” ujarnya.
Diharapkan, Presiden sebagai kepala negara dapat memandang peran pers secara lebih proporsional.
“Presiden semestinya melihat tugas jurnalistik secara jernih, cerdas, dan elegan. Pers bukan musuh pemerintah, tetapi mitra demokrasi yang menjalankan fungsi kontrol sesuai amanat Undang-Undang Pers,” katanya.
Pernyataan Prabowo di Harlah PKB
Sikap PWI Surakarta ini muncul merespons pidato Presiden Prabowo Subianto pada Puncak Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan bahwa istilah “londo ireng” yang pada masa kolonial merujuk kepada pribumi yang membantu penjajah masih ada hingga saat ini.
“Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” kata Prabowo.
Selain itu, Prabowo menyoroti pemberitaan media yang dinilai kerap menonjolkan kekurangan ketimbang pencapaian pemerintah, seperti pemberitaan sekolah rusak ketimbang puluhan ribu bangunan sekolah yang telah diperbaiki.
Menurut Prabowo, pemerintah telah memperbaiki sekitar 67.000 bangunan sekolah dan menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 100.000 sekolah pada tahun depan. Ia menegaskan pemerintah tidak antikritik, namun meminta kritik disampaikan secara proporsional.
“Kita negara demokrasi. Kita tidak anti-kritik. Tapi kita bukan anak kecil,” ujar Prabowo.
VA PAULO /*

