Foto: istimewa
SOLO, SUARASOLO.id
Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengusulkan penambahan kelas olahraga di tingkat Sekolah Menengah Atas atau SMA di Solo kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Usulan tersebut disampaikan Respati setelah menyapa dan memberikan motivasi kepada para murid Sekolah Menengah Pertama Sekolah Khusus Olahraga atau SMP SKO Solo yang tengah berlatih untuk persiapan mengikuti kejuaraan Liga TopSkor tingkat nasional di Lapangan Sriwedari, Jumat (24/7/2026).
Respati menyebut, usulan tersebut sudah ia sampaikan langsung kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, serta Dinas Pendidikan dan Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Tengah. Ia berharap usulan tersebut dapat ditindaklanjuti agar pembinaan atlet lulusan SMP SKO Solo dapat terus berlanjut hingga jenjang pendidikan menengah atas.
“Saya sudah menyampaikan ke Pak Gubernur untuk menambahkan sekolah olahraga di SMA 4 atau SMA lain di Solo. Beliau sedang mempertimbangkan. Jadi kita berdoa dan berharap agar usulan ini direalisasikan oleh Pak Gubernur, Dinas Pendidikan, dan Dinas Olahraga Jawa Tengah. Semoga ada penambahan kelas khusus olahraga di Surakarta,” kata Respati.
Menurutnya, kesinambungan pembinaan atlet menjadi hal penting, baik melalui SMA negeri maupun sekolah kejuruan. Untuk itu, ia juga telah menugaskan KONI agar ikut memantau lulusan SKO Solo sehingga arah pembinaannya lebih jelas.
“Jadi ke SMA negeri dan sekolah kejuruan. Tapi saat ini yang penting, dari KONI sudah saya tugaskan untuk memantau lulusan dari SKO ini agar pembinaannya jelas. Tidak hanya sepak bola, tetapi cabang olahraga lainnya juga akan diperhatikan,” tambahnya.
Respati menjelaskan, keberadaan SKO di Solo merupakan aset penting yang harus terus dijaga. Menurutnya, tidak banyak daerah yang memiliki program sekolah khusus olahraga seperti yang sudah berjalan di Kota Solo.
“SKO ini adalah sekolah yang luar biasa dan masih jarang. Saya juga mendengar beberapa daerah belum memiliki Sekolah Khusus Olahraga. Solo sudah memiliki, artinya Kota Solo serius membentuk Sekolah Khusus Olahraga,” ucapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pembinaan olahraga, khususnya sepak bola, memiliki prospek yang baik. Di tengah berkembangnya industri sepak bola di Indonesia, Respati optimistis olahraga dapat menjadi jalan karier dan masa depan bagi para atlet muda.
“Kita juga mempersiapkan desain besar olahraga. Ini harus asosiasi, pelindung, dan Dispora. Akan kami fokuskan pengembangan desain besar olahraga daerah,” tuturnya.
Meski demikian, Respati mengingatkan agar seluruh pihak tidak cepat berpuas diri. Ia mengaku menerima masukan terkait pentingnya pemenuhan gizi bagi atlet selama menjalani pembinaan.
“Tadi saya mendapat masukan yang sangat berharga terkait kecukupan gizi atlet. Ini akan menjadi perhatian kami ke depan,” ujarnya.
Dalam pembinaan sepak bola usia dini, Respati juga tengah mempersiapkan kompetisi amatir secara berjenjang dan berkesinambungan. Ia optimistis, melalui upaya tersebut, sektor olahraga di Kota Solo dapat terus berkembang.
“Saya tadi juga bertanya kepada beberapa pelatih. Liga amatir tidak bisa hanya satu atau dua festival saja. Harus berjenjang, mulai U-8, U-10, dan kelompok usia berikutnya, dengan kompetisi yang tersistem sehingga tumbuh kembang atlet bisa terlihat jelas,” tandasnya.
Leksono

