Siapkan Peternakan 2.000 Ekor Sapi, Katno Hadi Incar Pasokan Daging Bagi Pengusaha Bakso

Foto : Dokumentasi

SOLO, SUARASOLO.id — Pengusaha nasional Prof. Dr. KPH H. Katno Hadi, S.E., M.M., M.H., tengah bersiap melakukan ekspansi bisnis dengan membangun peternakan sapi berkapasitas hingga 2.000 ekor. Langkah ini diambil untuk menjaga dan mengamankan pasokan daging sapi, khususnya bagi para pengusaha bakso asal Wonogiri.

Rencana bisnis tersebut disampaikan Katno saat tiba di Bandara Internasional Adi Soemarmo, Solo, Minggu (9/8/2026), usai dikukuhkan sebagai Guru Besar di ASEAN University International, Malaysia, pada 4 Agustus 2026.

Prof Dr H Katno Hadi SE, MM, MH saat tiba di Bandara Adi Soemarmo, Solo, Minggu (9/8), usai dikukuhkan sebagai guru besar di Asean University International, Malaysia. (foto dokumentasi)

Katno menjelaskan, proyek ini akan dimulai secara bertahap melalui tahap uji coba (pilot project) sebelum dikembangkan ke skala besar.

“Kalau peternakan sapi ini saya nol, betul-betul nol. Kita mau uji coba dulu. Harapan kami tahap pertama minimal 200 ekor, kemudian akan kita kembangkan dengan target hingga 2.000 ekor,” ujar Katno.

Guna merealisasikan rencana ini, Founder Pabrik Semen Instan Ubond dan pemilik D’Lawu Bistro tersebut tengah mempertimbangkan dua lokasi strategis di Jawa Tengah, yakni Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Wonogiri.

Karanganyar dilirik karena memiliki tata ruang kawasan yang ramah peternakan, sejalan dengan basis usaha peternakan ayam petelur yang telah dilakoninya selama delapan tahun. Sementara Wonogiri menjadi kandidat kuat lantaran menyajikan potensi pasar yang besar serta mendapat dukungan investasi penuh dari pemerintah daerah setempat.

“Respon pemerintah Wonogiri untuk ternak sapi luar biasa. Kita diberi peluang gerak untuk seluas-luasnya. Kita memilih lahan yang penting tempatnya tepat sasaran,” katanya.

Lebih lanjut pengusaha berbagai bidang itu mengatakan, peluang bisnis peternakan sapi masih cukup besar karena kebutuhan daging sapi di masyarakat tergolong tinggi, terutama bagi para pengusaha bakso yang telah mendunia.

Dia juga menyoroti harga daging sapi yang saat ini disebutnya telah mencapai sekitar Rp 155.000/kg. Kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk mempelajari peluang bisnis peternakan sapi secara lebih serius.

Sebelum merencanakan peternakan sapi, Katno telah memiliki pengalaman mengelola peternakan ayam petelur selama sekitar delapan tahun. Meski demikian, dia menilai peternakan sapi memiliki karakteristik yang berbeda. Karena masih tergolong baru di bidang tersebut, Katno memilih menggunakan pendampingan konsultan agar pengelolaannya tidak dilakukan berdasarkan perkiraan semata.

“Ini beda ternyata. Tapi lebih mudah daripada ayam. Kalau saya pelajari, lebih mudah sapi. Cuma kita harus membuat itu jangan terus pakannya manual,” tuturnya.

Dia juga menekankan pentingnya pemilihan bibit serta sistem pakan yang tepat dalam pengembangan peternakan sapi. Menurutnya, ekspansi bisnis harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan potensi keuntungan, biaya operasional, manajemen, hingga risiko bisnis.

“Bisnis itu saya tahu ada yang bisa collapse. Ini karena sistem manajemen. Asalkan manajemen kita benar, manajemen kepegawaiannya benar, insyaallah masih bisa survive,” katanya.

Karena itu, Katno mengatakan prioritas bisnis dalam waktu dekat justru diarahkan pada pengamanan pasokan bahan baku tersebut. Rencana peternakan sapi akan dikembangkan secara bertahap setelah seluruh kajian, lokasi, sistem pengelolaan, hingga potensi pasar dipastikan.

Dengan pengalaman di sektor peternakan ayam serta berbagai bidang usaha lainnya, Katno berharap bisnis sapi yang direncanakan dapat ikut menjawab kebutuhan pasar daging sekaligus membuka peluang ekonomi baru di wilayah Jawa Tengah.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *