Foto: Humas Jateng
SEMARANG, SUARASOLO.id – Suasana Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang mendadak haru pada Selasa (18/8/2026). Seorang mahasiswa baru (maba) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Muhammad Dimas Ardiansyah, tak kuasa menahan air mata saat menyuarakan keresahannya terkait nasib dan kesejahteraan guru di Indonesia.
Di hadapan Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen—yang hadir mewakili Gubernur Ahmad Luthfi dalam acara Orasi Kebangsaan di Lapangan Kampus 3 UIN Walisongo—Dimas secara terbuka mempertanyakan komitmen dan solusi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah.

“Saya memperjuangkan hak-hak guru,” tegas Dimas dengan suara bergetar di hadapan ribuan mahasiswa dan jajaran civitas akademika.
Dimas menilai peran guru sangat vital dalam membangun peradaban bangsa, sembari menyinggung sejarah bangkitnya Jepang pascabom atom berkat fokus pada sektor pendidikan. Tangisnya pecah saat mengenang jasa para pendidik yang telah mengenalkannya pada ilmu pengetahuan sejak kecil, mulai dari membaca hingga huruf hijaiyah.
Menanggapi keberanian dan aspirasi emosional mahasiswa tersebut, sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu menegaskan bahwa Pemprov Jateng terus menempatkan kesejahteraan tenaga pendidik sebagai prioritas utama.

Gus Yasin mengungkapkan, salah satu langkah konkret Pemprov Jateng adalah masifnya pengangkatan guru melalui skema Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
“Siapa yang paling banyak mengangkat PPPK guru di Indonesia? Jawa Tengah paling banyak untuk menyejahterakan gurunya,” ujar Gus Yasin.
Berdasarkan data Pemprov Jateng, saat ini terdapat 17.662 guru PPPK dan 2.954 guru PPPK paruh waktu di bawah naungan pemerintah provinsi. Status PPPK ini menjamin pendapatan guru tidak hanya dari gaji pokok, tetapi juga tambahan penghasilan pegawai (TPP) sesuai ketentuan.

Tak hanya sektor formal, Gus Yasin menekankan bahwa Pemprov Jateng tetap mempertahankan program insentif bagi guru nonformal, seperti pengajar madrasah dan pondok pesantren, meski dalam kondisi efisiensi ekonomi.
“Sejak lima tahun lalu guru-guru agama kita beri insentif. Sampai hari ini masih kita pertahankan di saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja, tidak kita kurangi satu persen pun,” tegasnya.
Usai acara, Gus Yasin menyampaikan apresiasi tinggi atas sikap kritis yang ditunjukkan oleh maba UIN Walisongo tersebut. Ia menilai masukan langsung dari mahasiswa sangat penting sebagai kontrol sosial agar pemerintah terus mengawal peningkatan mutu dan kesejahteraan pendidik.
“Saya senang dan mengucapkan terima kasih kepada UIN serta mahasiswanya yang kritis menyuarakan aspirasi masyarakat. Guru harus sejahtera, guru harus dipikirkan, dan ini akan kita kawal bersama-sama,” pungkasnya.
VA PAULO /*

