OPINI
Oleh : Indra Alvin Setiyanto, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Setiap lima tahun sekali, kita melaksanakan suatu kegiatan rutin. Semua orang berkumpul, berbaris dan mengharapkan hak mereka dapat digunakan. Waktu pulang, jari mereka akan memiliki warna tinta yang mencolok dan akan dibanggakan oleh remaja yang baru pertama kali menggunakan hak mereka. Saat kemenangan dicapai, kelompok pemenang akan bersorak-sorai di jalan dan yang kalah akan tenang dengan perasaan frustrasi atas hasil yang terlihat di televisi mereka.
Waktu akan semakin berlalu dan kepemimpinan telah berubah. Para pemilih yang telah menggunakan hak mereka untuk memilih calon yang mereka inginkan akan mulai berpikir, “Apakah mereka menggunakan hak pilih mereka sesuai hati nurani yang telah mereka pikirkan matang-matang?” ataukah mereka menggunakannya dengan kecenderungan tertentu yang tidak mereka sadari?
Demokrasi adalah suatu ideal yang dituju oleh suatu organisasi secara umum. Saling berbagi pendapat, komunikasi lancar, setiap orang bisa berbicara dengan bebas sesuai norma yang berlaku. Demokrasi diharuskan bebas dan sesuai dengan hati nurani setiap orang. Pemaksaan dalam demokrasi adalah pelanggaran karena kebebasan, yang merupakan unsur utama, menghilang. Walaupun tidak ada penekanan yang terjadi, banyak yang menggunakan celah dalam demokrasi.
Penekanan merupakan pelanggaran, tapi pendapat dapat dicondongkan. Banyak penyebab pencondongan tersebut dapat dilakukan. Penyebab terbesarnya adalah tujuan dan kebutuhan yang searah dan saling menguntungkan.
Seperti yang diketahui dan dipahami, pemaksaan dalam berdemokrasi tidak pernah dilakukan. Kekerasan yang sering terjadi saat ini disebabkan oleh para fanatik yang ingin pilihan mereka divalidasi oleh orang-orang di sekitar mereka. Demokrasi yang dilakukan saat ini belum dapat dianggap sebagai demokrasi sepenuhnya. Banyak orang memberikan suara karena keuntungan sesaat yang mereka lihat dan citra sementara yang mereka lihat di antara pilihan yang ada. Krisis terbesar demokrasi modern terletak pada jurang yang kian menganga antara prosedur dan substansi.
Kita kerap membanggakan negara kita sebagai negara demokratis hanya karena berhasil melaksanakan pemilu secara teratur dan rutin. Padahal pemilu sendiri hanyalah sebuah gerbang institusional, bukan tujuan akhir. Bahkan saat pelaksanaan pemilu berjalan lancar, semua yang terjadi sebelum dan sesudah pemilu kadang hanya menunjukkan seberapa besar pendapat tergantung pada kebutuhan.
Demokrasi saat ini banyak yang bisa didapatkan dari keuntungan sesaat. Misalkan saat pemilihan, banyak orang yang memberikan suara mereka condong pada keuntungan saat itu tanpa memikirkan ke depan. Dalam kehidupan sehari-hari saja, sebagai contoh, suatu organisasi memilih pemimpin bukan hanya berdasarkan kemampuan individu untuk masa depan organisasi. Banyak keputusan yang lebih menitikberatkan pada keuntungan instan yang didapatkan oleh individu-individu pemilih saja. Mana yang akan memberikan bonus instan, mana yang memberikan kelonggaran yang lebih banyak, dan lebih banyak lagi.
Ketimpangan ini memberikan sebuah pertanyaan yang mendasar: bagaimanakah masa depan sebuah sistem di mana saat massa berpartisipasi malah dibuat menjadi sebuah rutinitas yang kosong? Ketika bilik suara yang seharusnya menjadi tempat rakyat memberikan suara jujurnya menjadi tempat rakyat menyetorkan harapan palsu yang mereka harapkan dari janji-janji kampanye instan, perlahan-lahan demokrasi akan kehilangan ruhnya. Demokrasi berubah menjadi mesin legitimasi bagi status quo, padahal ia seharusnya berperan sebagai alat emansipasi sosial. Rakyat datang beramai-ramai bukan karena kesadaran mereka untuk membangun peradaban, melainkan sebagai reaksi terhadap imbalan sesaat yang mereka dapatkan sebagai pemicu.
Fenomena ini memberikan dampak nyata dalam kehidupan bernegara maupun berorganisasi. Sistem yang mengorganisir dan memimpin akan cenderung rapuh karena dilahirkan dari rahim pragmatisme instan. Ketahanan moral yang dimiliki oleh pemimpin karena modal citra atau pembagian keuntungan jangka pendek akan langsung retak saat krisis besar terjadi. Sebab, sejak awal, ikatan transaksional yang mengikat mereka dengan orang yang memberikan suara untuk mereka, bukan visi besar maupun gagasan transformatif untuk masa depan.
Akhirnya, hal itu menyebabkan kebijakan publik dan keputusan organisasi sering kali tambal sulam, yang berfokus pada penyelesaian masalah secara jangka pendek untuk menjaga kepuasan kelompok tertentu, alih-alih merancang fondasi yang kokoh bagi generasi mendatang, untuk mencegah terjadinya masalah di masa depan dan mempersiapkan diri untuk menyelesaikan masalah mendatang secara efektif.
Lantas, bagaimana cara kita keluar dari lingkaran setan ini? Bagaimana kita terbebas dari kebiasaan yang membuat gila ini? Jawaban tersebut menuntut sebuah keberanian kolektif untuk merebut kembali substansi demokrasi dari cengkraman proseduralisme yang hampa. Pendidikan politik dalam skala kecil maupun skala besar harus direvolusi.
Kita perlu berhenti membesar-besarkan jumlah angka partisipan semata jika angka tersebut tidak didasarkan pada pengetahuan kritis yang dapat sepenuhnya dipahami oleh para pemilih. Para pemilih harus diajak melatih kembali nalar reflektif mereka: melihat melampaui batas retorika kampanye, menimbang rekam jejak secara kolektif, dan memahami bahwa setiap pilihan hari ini adalah investasi bagi masa depan yang akan mereka wariskan kepada generasi-generasi mendatang.
Selain itu, transparansi dan akuntabilitas tidak boleh berhenti pada hari pemilihan. Kontrol sosial harus terus dijalankan selama masa kepemimpinan seseorang masih berjalan, bukan hanya ditagih saat musim pemilihan tiba. Organisasi dan negara yang baik adalah saat kritik diproses dengan baik, tempat untuk berdialog terbuka tanpa ada rasa takut, dan keputusan-keputusan strategis diuji melalui perdebatan yang rasional dan sehat, bukan hanya dominasi dari salah satu sisi kelompok saja yang fanatik atau modal kekuatan yang lebih besar.
Pada akhirnya, warna tinta yang ada di ujung jari kita akan memudar dan menghilang dalam hitungan hari. Namun, dampak dari pilihan yang kita putuskan akan membekas dan memberikan dampak pada tahun-tahun mendatang. Demokrasi yang ideal bukanlah sebuah hadiah yang datang dengan sendirinya, melainkan sebuah kerja sunyi yang menuntut kedewasaan berpikir.
Jika kita terus membiarkan demokrasi terpengaruh oleh keuntungan-keuntungan instan, maka kita akan mengambil sebuah tikit dalam melihat sebuah film yang berjudul keruntuhan sistem yang Anda bangun. Sudah saatnya kita mengembalikan makna bilik suara ke sedia kala. Bukan sebagai tempat bertransaksi untuk mendapatkan keuntungan terbesar sendiri, melainkan sebagai tempat kesadaran yang jujur untuk menentukan arah peradaban di masa depan.
ADMIN /*

