Foto: Tayub Bambu Sanggar Sekar Jagad/C. Gunharjo L
SOLO, SUARASOLO.id
Seni Tayub Bambu dari Sanggar Sekar Jagad dalam Dolan Ngidul kerjasama Pemkot Solo dan Heru Mataya, di Alun-Alun Kidul Solo, Sabtu (20/09/2025) mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Selain Tayub Bambu, pementasan lainnya yaitu Tari SD Kasatriyan, Tari Sanggar Bale Rakyat, penampilan khusus SLBN Karanganyar, Tari Sanggar Semarak Candra Kirana Art Center.

Joko Ngadimin (Kanan)
Lagu yang dibawakan Tayub Bambu diantaranya Caping Gunung, Suket Teki, Madyo Bangun, Caping Gunung, Suket Teki, Taman Jurug, Gelo, Tatu, Kangening Ati, Prahu Layar, Tawang Mangu Indah, Ono Rondo, hingga Mancing.
Iringan Musik Bambu (Kentongan) dan gamelan Jawa, dengan penari tayub pria dan wanita yang begitu luwes menambah semarak acara. Yang bikin heboh, warga yang ketiban sampur bisa ikut menari Tayub Bambu.
Bagaimana sejarahnya Tayub Bambu?
Joko Ngadimin, Ketua Sanggar Sekar Jagad, meneritakan Seni Tayub Bambu Sanggar Sekar Jagad berawal dari kegiatan para petani desa yang berkumpul dan berkegiatan seni di Sanggar Sekar Jagad, bersamaan dengan lahirnya Sanggar Sekar Jagad.
“Waktu itu memang Musik Bambu (Kenthongan) menjadi cikal bakal dan pusat utama olahan kreatifitas seni. Karena peran Bambu dan filosofi bambu sangat kuat dan kenthal dalam kehidupan masyarakat desa Agraris,” kata Joko Ngadimin kepada SUARASOLO.id.
Filosofi bambu yang mewakili wong cilik atau wong ndeso, dengan akar bambu yang kuat serta peran bambu dalam kehidupan masyarakat pedesaan. Dari mulai muncul di permukaan tanah (rebung) untuk sayur sampai tumbuh menjadi bambu tua. Manfaat bambu sangat besar. Sebagai alat kelengkapan kebutuhan hidup masyarakat agraris pedesaan dan juga untuk rumah, bangunan pencakar langit pun tidak lepas dengan bambu. Sehingga bambu menjadi pilihan utama untuk dilestarikan dan diberdayakan di Sanggar Sekar Jagad mulai dari kemasan musik Bambu (musik kenthongan,) dan Tayub Bambu.
Dijelaskan Joko Ngadimin, Tayub Bambu Sekar Jagad, mulai tumbuh dan berkembang pada thn 2009 – sekarang. Beberapa pementasan baik berskala lokal, daerah, nasional dan Internasional pernah dilakukan. Namun yang menjadi tonggak awal kebangkitan Tayub Bambu yaitu pada th 2009 untuk acara pembukaan Even Gamelan Maker Festival 2009 di Sanggar Sekar Jagad yang dihadiri oleh para tokoh seniman, organisasi seni budaya, instansi pemerintah, budayawan, para peneliti, dan berbagai media seperti Kompas dan lainnya.
Kemudian pada tahun 2010 dam 2011 Tayub Bambu juga tampil di acara BWF, Bandung Wayang Festival . Tahun 2012 Tayub Bambu tampil dalam acara Ke Hati Award di Jakarta yang dihelat oleh Mentri Lingkungan Hidup dan DNPI (Dewan Nasional Perubahan Iklim) Jakarta. Tayub Bambu terus bertumbuh dan berkembang sampai sekarang, tdk hanya sebagai pentas tunggal, tetapi juga berkolaborasi dengan seni yang lain yaitu Gamelan Bambu (Galambu), Wayang Padi, Seni Kebo Kinul, Kidung Lesung Jumengglung, Kidung Dewi Sri, Kidung Pari Sak Wuli, Paman Dudho Gathik, Dewi Sri Turun Bumi, Sintren Tani dan lainnya.
C. Gunharjo Leksono

