SMK Marsudirini Solo Fashion Show di KRL Sambut Hari Batik  

Fashion Show Batik di KRL Solo Balapan-Palur. Foto: istimewa

SUARASOLO.id

Menyambut Hari Batik Nasional, SMK Marsudirini Surakarta menggelar  acara unik dan inspiratif: fashion show di atas kereta rel listrik (KRL) rute Solo Balapan–Palur,  Kamis, (02/10/2025.

Acara ini  kolaborasi apik antara SMK Marsudirini dengan Republik Aeng-Aeng pimpinan  Mayor Harisanto, serta melibatkan beberapa UMKM Batik Kota Surakarta, termasuk Sisca Jumputan Home Industri, Tlenik Art, dan Esaje Sikop. Kegiatan ini juga mendapatkan dukungan penuh dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan KCI (KAI Commuter Indonesia).

Kepala Sekolah SMK Marsudirini Surakarta, Veronika Etyk Kristianti, S.Pd., menjelaskan  kegiatan ini memiliki beberapa tujuan utama  ingin mendekatkan batik ke masyarakat dan secara proaktif menghilangkan kesan eksklusif yang selama ini melekat. Alih-alih menggelar acara di panggung konvensional, panggung KRL dipilih sebagai terobosan.

“Biasanya batik dipamerkan di panggung, namun dengan menggelarnya di KRL, batik menjadi terkenal lebih inklusif, bisa dipakai di mana saja dan oleh siapa saja. Selain itu, kami juga memanfaatkan ruang publik sebagai media promosi sekolah,” kata Etyk Kristianti kepada SUARASOLO.id.

Sebanyak 14 siswa   Jurusan Desain dan Produksi Busana, serta siswa kelas lintas jurusan Desain dan Produksi Busana, turut serta menjadi model. Mereka menampilkan kreasi busana batik kontemporer. Fashion show batik yang dilaksanakan di KRL tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan batik kepada masyarakat luas, tetapi juga sarana pembelajaran nyata bagi siswa.

Ketua Jurusan Desain dan Produksi Busana, Nanik Sri Lestari, S.Pd  menjelaskan kegiatan ini melatih anak-anak untuk lebih mandiri dalam mempersiapkan diri, mulai dari fitting baju, make up hingga latihan fashion show yang hanya dipersiapkan dalam waktu dua hari dan juga melatih kepercayaan dirinya. Dengan keterbatasan waktu, siswa dituntut untuk cepat beradaptasi mengatasi ruang dan situasi yang berbeda dari biasanya , disiplin, dan percaya diri tampil di ruang publik.

“Saya Gita, kelas XI Busana. Ini pengalaman baru banget buat saya. Biasanya kami tampil di atas panggung, tapi kali ini berjalan di KRL yang terus bergoyang. Rasanya menantang, tapi luar biasa dan jadi pengalaman yang tidak akan terlupakan,” ujar Gita.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi perayaan Hari Batik Nasional, tetapi juga menjadi contoh pemanfaatan ruang publik untuk promosi budaya dan ekonomi kreatif, serta menginspirasi generasi muda untuk mencintai dan melestarikan batik sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB ) yang Mendunia. **

C. Gunharjo Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *