SURAKARTA, SUARASOLO.id
Upaya peningkatan tata kelola koperasi berbasis masyarakat terus menjadi perhatian berbagai institusi pendidikan, salah satunya Politeknik ATMI Surakarta. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), ATMI melaksanakan sebuah inisiatif strategis untuk melakukan digitalisasi pengelolaan Koperasi Warga Sibela 26 (Kowarsi 26) di Mojosongo, Surakarta.
Program ini ditutup dengan kegiatan pelatihan dan serah terima Sistem Informasi Koperasi berbasis web Sabtu (8/11/2025), dihadiri pengurus serta perwakilan anggota koperasi.
Ketua Koperasi, Murdi menuturkan, sejak berdiri pada 2021, Kowarsi 26 telah menjadi ruang solidaritas ekonomi warga—berfokus pada layanan simpan-pinjam untuk mendorong kemandirian finansial sekaligus melindungi warga dari risiko pinjaman online dan rentenir. Namun dengan seluruh administrasi yang masih dikelola secara manual, tantangan demi tantangan muncul tanpa henti.

Mulai dari data yang tercecer, pencatatan ganda, laporan keuangan yang terlambat, hingga kesulitan pelacakan transaksi ketika ada komplain anggota. Semua itu menyebabkan kerja pengurus menjadi berat, dan tak jarang memicu keraguan anggota terhadap keakuratan laporan.
“Bukan sekali dua kali kami harus mengulang laporan karena datanya tidak sinkron. Kalau semua masih di buku, kesalahan mudah terjadi. Anggota tentu ingin ada kepastian dan kejelasan lebih cepat,” ujar Murdi.
Kondisi itulah yang kemudian menjadi dasar bagi ATMI Surakarta untuk turun tangan memberikan solusi berbasis teknologi.
Inisiatif Digitalisasi dari Kampus Vokasi
Sebagai institusi yang sejak lama menekankan pendekatan teaching factory dan penggunaan teknologi tepat guna, tim PKM ATMI Surakarta memandang digitalisasi koperasi sebagai langkah yang sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini. Program ini tidak hanya merancang aplikasi, tetapi juga melakukan pendampingan menyeluruh.
Fenty Pandasari menegaskan bahwa persoalan koperasi rintisan bukan pada kemauan, melainkan sistem kerja yang belum didukung alat yang memadai.
“Banyak koperasi komunitas sebenarnya memiliki semangat besar, tetapi administrasinya masih manual. Kami ingin mendorong mereka naik kelas. Digitalisasi ini bukan soal canggih-canggihan, tetapi soal mempermudah kerja dan membangun kepercayaan anggota,” kata Fenty.
ATMI kemudian mengembangkan Sistem Informasi Koperasi Berbasis Web, menggunakan framework Django dan database PostgreSQL—dua teknologi yang dikenal stabil, aman, dan cocok untuk transaksi keuangan.
Pengembangan sistem dilakukan bertahap dalam tiga fase selama 6 bulan, mulai dari modul anggota dan simpanan, modul pinjaman dan angsuran, hingga laporan keuangan otomatis yang bisa dicetak dalam hitungan detik.
Hari Pelatihan: Warga Belajar Langsung Mengoperasikan Sistem
Pada hari pelatihan, suasana interaktif langsung terasa. Para pengurus mencoba masuk ke sistem, mengelola data anggota, memasukkan transaksi simpanan, hingga melakukan simulasi angsuran.
Beberapa pengurus yang awalnya belum familiar dengan teknologi digital tampak antusias saat menyadari bahwa proses yang dulu memakan waktu berjam-jam kini bisa dilakukan dalam beberapa menit.
“Dulu untuk rekap satu bulan bisa sampai larut malam. Sekarang tinggal klik, data langsung muncul rapi,” ujar salah satu pengurus saat sesi tanya jawab.
Selain penggunaan aplikasi, tim ATMI juga memberikan materi tentang cara mengamankan data, menjaga kerahasiaan akun, serta perawatan server sederhana agar koperasi tidak bergantung penuh pada pihak luar.
Pelatihan kemudian diakhiri dengan serah terima resmi sistem dari ATMI kepada Koperasi Sibela 26, yang berupa Sistem dalam Perangkat Komputer,, dokumen teknis dan manual penggunaan sebagai pegangan jangka panjang.
Perubahan Nyata Mulai Terlihat
Beberapa perubahan langsung terlihat setelah sistem dioperasikan.
Pertama, kecepatan pencatatan meningkat drastis. Transaksi simpanan dan pinjaman dapat dimasukkan secara real-time tanpa risiko kehilangan data.
Kedua, laporan keuangan bulanan dapat dihasilkan otomatis, sehingga pengurus tidak lagi melakukan rekap manual.
Ketiga, transparansi meningkat—anggota merasa lebih nyaman karena data mereka terekam rapi dan dapat ditampilkan kapan saja saat diperlukan.
“Hasilnya sudah terasa. Kami jadi lebih percaya diri dalam menyampaikan laporan pada anggota. Tidak ada lagi tumpukan buku yang harus dicocokkan satu per satu,” kata Murdi.
Dampak Sosial Lebih Luas dari Sekadar Teknologi
Tim ATMI menilai bahwa dampak program ini bukan hanya teknis, melainkan juga sosial. Ketika tata kelola koperasi membaik, kepercayaan anggota meningkat, partisipasi bertambah, dan solidaritas ekonomi warga pun menguat.
Fenty Pandasari menekankan bahwa digitalisasi koperasi adalah langkah penting dalam pemberdayaan ekonomi komunitas.
“Kalau koperasi kuat, warga kuat. Dengan sistem ini, kami berharap Kowarsi 26 menjadi model koperasi komunitas modern yang akuntabel, transparan, dan mandiri,” ucap Fenty.
Ia juga menambahkan bahwa program ini sejalan dengan upaya meningkatkan literasi digital masyarakat serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.
Menuju Koperasi Komunitas Modern
Dengan implementasi sistem informasi berbasis web ini, Kowarsi 26 memasuki babak baru dalam pengelolaan koperasi. Sistem yang stabil, mudah digunakan, dan telah diujicobakan langsung ini menjadi fondasi bagi koperasi untuk berkembang di masa depan.
Para pengurus kini memiliki alat yang mempermudah pekerjaan mereka, sementara anggota mendapatkan jaminan transparansi serta kejelasan data yang lebih baik.
Digitalisasi ini diharapkan mendorong Kowarsi 26 menjadi koperasi komunitas yang tidak hanya hidup, tetapi juga tumbuh, berkembang, dan memberi manfaat ekonomi bagi seluruh warga Sibela.
Gunharjo/*

