Foto: Dokumen Tular Nalar Summit 2025
Sleman, Suarasolo.id
Dalam menghadapi tantangan era digital, kita tidak bisa bergerak sendiri-sendiri. Diperlukan upaya bersama untuk membekali semua lapisan masyarakat. Utamanya kaum rentan seperti lansia dan pemilih pemula dengan kemampuan literasi digital dan pemikiran kritis. Semua ini agar mereka mampu memilah informasi dan terhindar dari dampak negatif digitalisasi.
Salah satu inisiasi penting sebagai wujud gerakan kolektif ini adalah program literasi digital Tular Nalar – Mafindo. Sebagai puncaknya, program ini menggelar perayaan besar melalui Tular Nalar Summit 2025, yang berlangsung di Auditorium STMM MMTC, Sleman, D.I. Yogyakarta. Mengusung tema “Merayakan Semesta Kolaborasi,” acara ini menjadi ruang temu para penggerak literasi digital dari seluruh Indonesia, serta menandai berakhirnya fase ketiga program Tular Nalar yang telah berlangsung sejak 2023.
Acara dibuka secara resmi oleh Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) dan Giri Lumakto, Program Manager Tular Nalar. Digarisbawahi pula pentingnya keberlanjutan gerakan literasi digital untuk masyarakat, termasuk bagi kelompok rentan.
Septiaji memperkenalkan “Mafindo Institute” pada publik, sebagai sebuah wadah untuk mengkompilasi edukasi literasi digital. Tentunya bisa terlaksana karena kolaborasi dengan banyak pihak. Dia juga menyoroti bahwa sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence.
“Ibarat 2 sisi mata pedang. Dampak negatif penggunaan teknologi yang keliru serta dampak negatif tak terduga. Ini membuat ruang digital masih diwarnai dengan hoaks dan ujaran kebencian,” tambahnya.
C. Gunhajo Leksono

