Digitalisasi Jadi ‘Jurus Jitu’ Indaco Hadapi Dampak Perang Timur Tengah


Foto : Dokumentasi


SOLO, SUARASOLO.id – Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai membayangi stabilitas sektor industri di tanah air, termasuk industri cat. Menanggapi situasi global tersebut, PT Indaco Warna Dunia menyiapkan strategi khusus guna membentengi operasional perusahaan.

​Founder sekaligus Presiden Direktur PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus, mengungkapkan bahwa ketegangan geopolitik ini berdampak langsung pada ketidakpastian pasokan bahan baku industri cat.

​”Dampaknya cukup berat karena memicu lonjakan harga bahan baku berbasis minyak bumi. Selain itu, jalur logistik internasional turut terganggu yang berujung pada kenaikan biaya transportasi,” ujar Iwan di sela acara groundbreaking facade Cultural Prison of Art di Rutan Kelas I Surakarta, Sabtu (25/4).

Founder PT Indaco Warna Dunia, Iwan Adranacus di sela acara groundbreaking facade Cultural Prison of Art di Rutan Kelas I Surakarta, Sabtu (25/4). (foto dokumentasi)

​Meski dihantam kenaikan biaya logistik dan bahan baku, Iwan menegaskan bahwa Indaco masih mampu menjaga stabilitas harga produk di pasar. Kuncinya terletak pada akselerasi digitalisasi proses bisnis yang telah diinisiasi perusahaan sejak beberapa tahun lalu.

Melalui sistem digital tersebut, perusahaan mengaktifkan buffer management system pada rantai pasok untuk meminimalkan guncangan harga yang mendadak.

Orang pertama di Industri Cat yang berada di Kampung Pulosari, Kebakkramat itu menambahkan bahwa Indaco memiliki cadangan inventori yang cukup untuk mengantisipasi kondisi pasar selama beberapa bulan ke depan.

Dengan demikian, kenaikan harga di tingkat konsumen tidak terjadi secara drastis meskipun tekanan global sangat kuat.

Di sisi lain, kata dia, krisis di Timur Tengah ternyata tidak hanya berimbas pada urusan dapur industri, tetapi terdampak juga pelaksanaan ajang internasional Meeting of Styles (MOS) 2026 yang akan digelar di Solo Raya.

Iwan Adranacus juga mengungkapkan, pada di moment MOS sejumlah seniman dari Eropa Barat dan Eropa Timur terpaksa membatalkan kehadiran mereka karena gangguan penerbangan.


Banyak penerbangan yang transit melalui Dubai atau Doha dibatalkan akibat situasi keamanan di wilayah tersebut.

Meski demikian, pihak penyelenggara memastikan ajang MOS 2026 tetap akan berlangsung meriah dengan kehadiran seniman dari wilayah lain yang tidak terdampak jalur penerbangan Timur Tengah.

Seniman grafiti dari Asia, Amerika, hingga Australia tetap mengonfirmasi kehadiran mereka. Total sekitar 50 artis internasional dijadwalkan akan berpartisipasi dalam pembukaan yang rencananya digelar di Rutan Surakarta pada 15 Mei 2026.

Rangkaian acara akan berlanjut di Belazo Art Space, Karanganyar, hingga 17 Mei 2026. Iwan berharap ajang ini tetap menjadi ruang istimewa bagi seniman nasional maupun mancanegara untuk berkarya di jantung Kota Solo, sekaligus memperkuat citra Surakarta sebagai pusat kreatif dunia.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *