Foto : Humas Jateng
SEMARANG, SUARASOLO.id – Kawasan Candi Borobudur, Magelang, bersiap menyambut lonjakan ekonomi menjelang puncak perayaan Tri Suci Waisak 2570 BE/2026. Sebanyak 23.000 umat Buddha dari seluruh pelosok Indonesia telah terdaftar untuk memadati situs warisan dunia tersebut, dengan prediksi tambahan 10.000 pengunjung saat malam pelepasan lampion.
Ketua DPD Walubi Jawa Tengah, Tanto Soegito Harsono, mengungkapkan bahwa antusiasme tahun ini sangat luar biasa. Peserta tercatat datang dari berbagai daerah mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Bali dan NTB.
“Dampaknya tentu besar bagi masyarakat. Hotel, homestay, hingga warung makan dan restoran sudah mulai penuh. Momentum libur panjang di akhir Mei menjadi faktor utama keramaian tahun ini,” ujar Tanto usai melakukan audiensi di Kota Semarang, Rabu (13/5/2026).

Lonjakan kunjungan itu disebut sudah mulai terasa di kawasan Borobudur dan sekitarnya. Hotel, homestay, hingga penginapan milik warga dilaporkan hampir penuh sejak jauh hari.
“Dampaknya tentu besar untuk masyarakat, mulai hotel, homestay, warung makan, restoran, semuanya akan ramai menjelang Waisak,” ujarnya.
Menurut Tanto, momentum libur panjang pada akhir Mei juga menjadi faktor yang membuat Waisak tahun ini diprediksi lebih ramai dibanding tahun sebelumnya.

Wakil Ketua Panitia Waisak Nasional 2026, Karuna Murdaya, mengatakan, dukungan Gubenur Jateng, Ahmad Luthfi, selama ini menjadi bagian penting dalam kelancaran penyelenggaraan Waisak Nasional.
“Pak Gubernur pernah ikut sebelumnya, dan tahun ini senang akan hadir juga,” ujarnya seusai audiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, di Kota Semarang, Rabu, 13 Mei 2026.
Rangkaian peringatan Waisak telah dimulai sejak awal Mei, namun intensitas kegiatan akan meningkat pada 23-24 Mei melalui bakti sosial kesehatan gratis yang menargetkan 10.000 pasien di Borobudur.

Selain kegiatan sosial, panitia juga menyiapkan sejumlah ritual sakral yang menjadi tradisi tahunan Waisak. Pada 29 Mei akan dilakukan pengambilan Api Dharma dari Mrapen, Grobogan, dilanjutkan pengambilan Air Berkah dari Umbul Jumprit pada 30 Mei.
Karuna menjelaskan, salah satu hal yang menjadi perhatian tahun ini adalah perjalanan para Bhikkhu Thudong yang berjalan kaki dari Bali menuju Borobudur sejauh sekitar 660 kilometer..
“Tahun ini ada 60 bhikkhu yang ikut, terdiri dari 50 bhikkhu asing dan 10 lokal,” katanya.
Puncak perayaan Waisak akan berlangsung pada 31 Mei 2026. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, detik-detik Waisak tahun ini jatuh pada sore hari, tepat pukul 15.44 WIB. Karena itu, susunan acara juga mengalami penyesuaian.
Prosesi akan dimulai sejak pagi hari dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Setelah detik-detik Waisak berlangsung pada sore hari, pelepasan lampion perdamaian akan dibagi dalam dua sesi mulai pukul 18.30 WIB, kemudian dilanjutkan sendratari pada malam hari.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan dukungan penuh pemerintah provinsi terhadap penyelenggaraan Waisak Nasional 2026 sebagai agenda keagamaan nasional yang strategis.
Menurutnya, Waisak tidak hanya menjadi perayaan spiritual umat Buddha, tetapi juga simbol kuat toleransi, persatuan, dan moderasi beragama di Indonesia.
Pemprov Jawa Tengah, lanjut dia, mendukung seluruh rangkaian kegiatan mulai dari bakti sosial kesehatan, ritual spiritual, hingga prosesi puncak Waisak di Borobudur.
Ahmad Luthfi juga memastikan akan hadir dalam rangkaian kegiatan Waisak di Borobudur.
VA PAULO /*

