Kejar Posisi 10 Besar Kota Toleran, FKUB Solo Bakal Sambut 55 Bhikkhu Thudong dalam Kirab Waisak

Foto : Dokumentasi

SOLO, SUARASOALO.id — Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Surakarta berusaha untuk mendongkrak posisi Kota Solo agar mampu menembus peringkat 10 besar Kota Toleran di Indonesia. Salah satu gebrakan terdekatnya adalah menggelar Kirab Kerukunan dalam rangka Hari Raya Waisak yang akan dihadiri oleh 55 Bhikkhu Thudong lintas negara, Sabtu (23/5/2026).

​Ketua FKUB Solo, Muhammad Mashuri, menegaskan bahwa Solo saat ini masih berada di peringkat ke-12 nasional versi Setara Institute. Demi mengejar target masuk 10 besar pada tahun 2027, FKUB tidak bisa bergerak sendiri dan membutuhkan kolaborasi total dari seluruh elemen masyarakat.

​”Penilaian ini bukan hanya soal kegiatan FKUB saja, tetapi menyangkut ekosistem kota secara keseluruhan. Maka semua pihak harus bergerak bersama,” ujar Mashuri saat ditemui di Gedung Sekretariat Bersama (Sekber) Kepatihan Wetan, Jebres, Kamis (21/5/2026).

Muhammad Mashuri, Ketua FKUB Kota Solo, bersama anggota  (Foto dokumentasi)

Menurutnya, penilaian kota toleran memiliki banyak indikator sehingga tidak bisa hanya dibebankan kepada FKUB maupun pemerintah semata.

Namun kata dia, pentingnya keterlibatan seluruh elemen, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, media hingga generasi muda.

Untuk mengejar target masuk 10 besar Kota Toleran pada 2027, lanjut Mashuri, FKUB menyiapkan sejumlah program strategis yang akan dijalankan secara bertahap sepanjang tahun ini.

Para Bhikkhu Thudong dari berbagai negara melintas di jalan raya dalam perjalanannya dari Jakarta menuju Borobudur, Magelang, di tahun 2025. (foto dokumentasi)

Program pertama adalah sosialisasi wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan regulasi kerukunan di 54 kelurahan se-Kota Solo. Program tersebut sudah mulai berjalan di Kecamatan Jebres dan akan dilanjutkan ke Pasar Kliwon, Serengan, Laweyan hingga Banjarsari.

Mashuri menjelaskan, dalam kegiatan tersebut FKUB tidak hanya bertemu perangkat kelurahan, tetapi juga turun langsung menyapa masyarakat, RT dan RW agar pesan toleransi benar-benar dipahami hingga level bawah.

Program kedua adalah branding taman cerdas menjadi “Taman Toleransi”. FKUB berencana menambahkan pesan-pesan moderasi beragama dan edukasi kerukunan di sekitar 17 titik taman cerdas yang ada di Kota Solo.

Menurut Mashuri, konsep tersebut telah mendapat dukungan dari Wali Kota Solo dan saat ini tinggal mematangkan konsep serta penganggaran.

“Esensinya tidak mengurangi fungsi taman cerdas, tetapi ditambah edukasi mengenai toleransi dan moderasi beragama,” katanya.

Program ketiga adalah audisi Putra-Putri Duta Kerukunan. Program ini menyasar generasi muda agar menjadi agen perubahan sekaligus influencer toleransi di lingkungan masing-masing.


Nantinya proses seleksi akan dilakukan mulai dari tingkat kelurahan, kecamatan hingga kota. Para duta kerukunan tersebut akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan sosial dan edukasi kebhinekaan.

“Kami ingin anak muda menjadi motor penggerak toleransi di tengah masyarakat,” ucap Mashuri.

FKUB juga menyiapkan hotline kerukunan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam. Layanan tersebut diharapkan menjadi jalur cepat penyelesaian ketika muncul persoalan sosial maupun potensi konflik antarumat beragama.

“Kalau ada persoalan bisa langsung dikomunikasikan sehingga tidak membesar,” imbuhnya.

Selain itu, FKUB akan menerbitkan buletin kerukunan yang berisi pesan-pesan toleransi, kegiatan lintas agama, hingga edukasi moderasi beragama. Buletin tersebut akan disebarluaskan kepada masyarakat sebagai media literasi sosial.

Program lain yang juga disiapkan adalah kirab kerukunan antarumat beragama berbasis hari besar keagamaan. Agenda terdekat akan dilaksanakan dalam momentum Hari Raya Waisak pada Sabtu (23/5).

Agenda Kirab Kerukunan Hari Raya Waisak pekan ini diprediksi akan menyedot perhatian publik. Pasalnya, ini adalah momen pertama kalinya para Bhikkhu Thudong melintasi Kota Bengawan.

​”Ini pertama kali Bhikkhu Thudong melintas di Solo. Biasanya rutenya dari barat, yakni Jakarta menuju Magelang. Kali ini, para Bhikkhu berjalan dari timur, yaitu Surabaya menuju Magelang dengan melintasi Solo,” jelas Chanda, Panitia Bersama Hari Waisak.

​Kirab yang akan diikuti sekitar 1.500 peserta—termasuk perwakilan 10 orang dari setiap agama—ini akan mengambil rute dari Loji Gandrung menuju Balai Kota Surakarta.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *