Foto: kolase dari IG Peni Candrarini
SOLO, SUARASOLO.id
Kabar membanggakan datang dari dunia musik Indonesia. Komposer dan penyanyi asal Indonesia, Peni Candrarini, kembali mengharumkan nama bangsa melalui karya berjudul The Wheel yang akan menjalani world premiere dalam ajang bergengsi Gaudeamus Festival bersama Andy McGraw dan New European Ensemble.
Peni Candrarini mengungkapkan rasa syukur mendalam atas perjalanan karyanya yang berhasil menembus panggung-panggung musik internasional. Baginya, panggung dunia bukan sekadar tempat pertunjukan, tetapi ruang yang memuliakan musik sebagai bahasa jiwa dan sarana merawat kemanusiaan.
“Ada rasa syukur yang tak henti mengalir kepada semesta. Betapa beruntungnya karya-karya menemukan rumah-rumahnya di panggung-panggung kehormatan dunia. Di sana, musik bukan sekadar bunyi, tetapi bahasa jiwa, ruang perjumpaan batin, dan ikhtiar merawat kemanusiaan,” tulis Peni dalam unggahannya.
Menurutnya, setiap nada yang dimainkan merupakan doa, sementara setiap getaran musik menjadi kesempatan bagi manusia untuk mendengarkan kehidupan dengan lebih jernih. Musik, kata dia, tidak selalu hadir untuk memberikan jawaban, melainkan membuka ruang agar manusia kembali mengenali dirinya, sesama, dan alam semesta.
Karya The Wheel sendiri lahir dari perenungan mendalam terhadap siklus kehidupan yang tergambar dalam tembang macapat Jawa. Komposisi ini mengangkat sebelas fase perjalanan hidup manusia yang kemudian diterjemahkan melalui perpaduan gamelan dengan ansambel musik kontemporer.
Bagi Peni, karya tersebut merupakan upaya menjaga ingatan budaya sekaligus menjembatani tradisi dengan masa depan.
“The Wheel lahir dari permenungan atas siklus kehidupan dalam tembang macapat Jawa. Sebuah ikhtiar kecil untuk merawat ingatan, menyapa masa depan, dan menjembatani doa-doa yang tak selalu dapat diucapkan dengan kata,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para leluhur, guru, musisi, dan semua pihak yang telah mendukung perjalanan kreatifnya.
“Semoga setiap perjalanan karya ini selalu menemukan muaranya, menghadirkan cahaya, memperluas kasih, dan menghidupkan kembali kemanusiaan di dalam diri kita. Selebihnya, saya hanya menitipkan bunyi kepada waktu,” tutup Peni.
Penampilan perdana The Wheel di panggung internasional menjadi tonggak penting bagi perjalanan musik kontemporer Indonesia. Karya tersebut tidak hanya memperkenalkan kekayaan filosofi budaya Jawa kepada dunia, tetapi juga menunjukkan bahwa tradisi Nusantara mampu berdialog secara harmonis dengan perkembangan musik global.
Leksono

