Rektor Stikosa AWS: Ilmu Komunikasi Tak Akan Punah, Justru Kian Dibutuhkan di Era AI

Foto: dokumentasi Mas Jojo

JAKARTA, SUARASOLO.id 

Wacana evaluasi hingga kemungkinan likuidasi program studi yang dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan industri memunculkan kekhawatiran di kalangan perguruan tinggi, khususnya rumpun ilmu sosial dan humaniora.

Namun, Rektor Sekolah Tinggi Komunikasi Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS), Dr. Jokhanan Kristiyono, ST., M.Med.Kom., menilai Program Studi Ilmu Komunikasi justru akan semakin dibutuhkan di masa depan.

Menurut Jokhanan, dalam perbincangannya dengan Jojo Raharjo, Ilmu Komunikasi memiliki karakter yang adaptif sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman, termasuk di tengah pesatnya transformasi digital dan hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Di Indonesia, Program Studi Ilmu Komunikasi merupakan salah satu prodi yang paling cair. Bahkan Fakultas Kedokteran pun mengadopsi Ilmu Komunikasi dalam sejumlah mata kuliahnya,” ujar Jokhanan dalam perbincangan di lobi Kantor Badan Penghubung Daerah Jawa Timur, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Stikosa AWS selama ini dikenal sebagai salah satu kampus yang banyak melahirkan jurnalis, praktisi hubungan masyarakat (public relations), hingga profesional di bidang komunikasi.

AI Bukan Ancaman Ilmu Komunikasi

Menurut Mas Jo, panggilan akrab Jokhanan, maraknya penggunaan AI dan perubahan lanskap media yang ditandai dengan munculnya berbagai platform digital maupun fenomena “homeless media” dinilai tidak akan menggeser esensi Ilmu Komunikasi.

Menurut Jokhanan, teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan substansi komunikasi tetap bergantung pada manusia yang mengelola pesan dan informasi.

“Soal digitalisasi media itu hanya persoalan tools. Substansi komunikasinya tetap berada pada orang di balik platform dan teknologi tersebut,” tegas doktor lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga itu.

Ia menilai kemampuan berpikir kritis, memahami audiens, membangun narasi, hingga menjaga etika komunikasi tetap menjadi kompetensi utama yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi.

Soroti Tantangan Komunikasi Pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, Jokhanan juga memberikan pandangannya mengenai strategi komunikasi pemerintahan di era digital yang serba cepat.

Menurutnya, komunikasi publik pemerintah harus mampu bergerak cepat tanpa mengabaikan ketepatan informasi.

“Ibarat strategi tim peserta Piala Dunia, government public relations harus mampu memadukan kecepatan merespons, sikap prudent, sekaligus tetap mengedepankan analisis yang mendalam serta akurasi data,” katanya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan AI, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi komunikasi justru semakin besar. Alih-alih terancam dilikuidasi, Program Studi Ilmu Komunikasi dinilai masih memiliki prospek yang kuat karena terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *