Foto: dokumentasi Pemkot Surakarta
SURAKARTA, SUARASOLO.id
Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menegaskan bahwa kehadiran seorang ayah merupakan kunci dalam membangun keluarga berkualitas sekaligus mencetak generasi yang sehat, tangguh, dan unggul. Hal tersebut disampaikan saat menghadiri Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Kota Surakarta di Pendhapi Gede Balai Kota Surakarta, Selasa (14/7/2026).
Mengusung tema nasional “Ayah Wajib Hadir”, Pemerintah Kota Surakarta mengajak para ayah tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga hadir secara emosional dan aktif mendampingi setiap tahapan tumbuh kembang anak.
“Keluarga berkualitas tidak bisa hanya mengandalkan pengasuhan seorang ibu. Ayah harus hadir membangun keutuhan dan ketahanan keluarga sebagai penyeimbang. Perbedaan cara pengasuhan ayah dan ibu justru saling melengkapi demi tumbuh kembang anak yang optimal,” kata Astrid.
Menurut Astrid, investasi terbaik untuk masa depan bangsa dimulai dari keluarga. Karena itu, Pemerintah Kota Surakarta terus memprioritaskan pembangunan keluarga berkualitas sebagai fondasi lahirnya sumber daya manusia yang unggul dalam menghadapi bonus demografi.
Ia menambahkan, makna “Ayah Wajib Hadir” tidak berhenti pada momen-momen tertentu, seperti mengantar anak ke sekolah atau mendampingi saat sakit. Kehadiran tersebut harus menjadi komitmen yang terus berlanjut hingga anak tumbuh dewasa.
“Proses ayah hadir saya harapkan bisa berkelanjutan. Tidak hanya saat mendampingi anak ke dokter atau ke sekolah, tetapi sampai mereka dewasa kita sebagai orang tua, termasuk ayah, tetap hadir, terlibat, dan bertumbuh bersama,” ujarnya.
Dalam talkshow Harganas, Astrid hadir bersama suaminya, Poernomo Warasto, B.B., dan Dokter Spesialis Anak Dr. dr. Hari Wahyu Nugroho, M.Kes., Sp.A(K). Ketiganya sepakat bahwa keterlibatan ayah harus dimulai bahkan sejak masa kehamilan.
Dr. Hari Wahyu Nugroho menjelaskan, kehadiran ayah sejak awal kehidupan anak berpengaruh terhadap kesehatan, perkembangan kognitif, rasa percaya diri, hingga kreativitas anak. Ia mendorong agar gerakan keterlibatan ayah tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan mengambil rapor, tetapi juga mengantar istri memeriksakan kehamilan, mendampingi imunisasi, hingga aktif mengisi Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
Sementara itu, Poernomo Warasto menekankan pentingnya membangun ikatan emosional atau bonding antara orang tua dan anak sejak dini. Menurutnya, kedekatan tersebut menjadi benteng utama menghadapi tantangan perkembangan teknologi dan media sosial.
“Kalau anak sudah mendapatkan kenyamanan batiniah di rumah, insyaallah tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh-pengaruh di luar,” katanya.
Sebagai bentuk implementasi kampanye Ayah Wajib Hadir, Pemerintah Kota Surakarta melalui DP3AP2KB meluncurkan sejumlah program, di antaranya Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR), Gerakan Ayah Mengantar Anak pada Hari Pertama Sekolah (GAMAS), serta Gerakan Ayah Seneng Momong Anak Solo (GASMAS) yang mengadopsi semangat Gerakan Ayah Teladan Indonesia dengan pendekatan kearifan lokal.
Selain itu, rangkaian Harganas juga diisi dengan pelayanan keluarga berencana gratis menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP), meliputi MOW, MOP, IUD, dan implan di sejumlah fasilitas kesehatan yang bekerja sama.
Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Surakarta yang dinilai mampu menghadirkan peringatan Harganas yang inovatif meski di tengah keterbatasan anggaran. Berbagai capaian pelayanan keluarga berencana bahkan berhasil melampaui target dan dipadukan dengan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi melalui pertunjukan Wayang Orang bertema kesehatan reproduksi yang digelar bertepatan dengan peringatan 116 tahun Wayang Orang Sriwedari.
BKKBN juga mengapresiasi penyelenggaraan Gerakan Ayah Seneng Momong Anak Solo sebagai bentuk inovasi daerah dalam memperkuat keterlibatan ayah melalui pendekatan budaya lokal.
Menurut BKKBN, tema “Ayah Wajib Hadir” diangkat karena masih tingginya angka ayah yang belum terlibat aktif dalam pengasuhan. Berdasarkan data BKKBN tahun 2025, sebanyak 25,8 persen ayah di Indonesia belum hadir secara optimal dalam proses pengasuhan anak.
BKKBN juga mengingatkan bahwa Jawa Tengah telah memasuki fase replacement level dengan Total Fertility Rate (TFR) sebesar 2,07, sehingga fokus pembangunan kependudukan kini bergeser pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Momentum bonus demografi yang didominasi penduduk usia produktif harus dimanfaatkan melalui penguatan keluarga, pendidikan, kesehatan, dan pola pengasuhan yang baik agar melahirkan generasi Indonesia yang berkualitas.
Melalui peringatan Harganas ke-33 ini, Pemerintah Kota Surakarta menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi pembangunan kota. Dengan kolaborasi seluruh elemen, khususnya keterlibatan aktif seorang ayah, diharapkan lahir generasi Surakarta yang sehat, berkarakter, berdaya saing, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Leksono

