Perajin Lurik Karangasem Gunakan ATBM Portabel,  Cukup  Tangan yang Bergerak

Foto: Kominfo Klaten

KLATEN, SUARASOLO.id

Perajin lurik di Desa Karangasem, Kecamatan Cawas memperkenalkan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) portabel saat penyelenggaraan program serap aspirasi, Sambung Rasa, di Joglo Pertemuan Desa Karangasem Jumat (17/10/2025). Inovasi tersebut mendapatkan perhatian dari Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo saat meninjau stand UMKM yang dibuka saat Sambung Rasa digelar.

Bupati Klaten yang akrab disapa Mas Hamenang itu mengapresiasi terobosan yang dibuat oleh perajin lurik. Ia berharap hadirnya inovasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan industri lurik yang merupakan produk unggulan khas Kabupaten Klaten.

“Ini baru satu-satunya di Klaten,” ungkapnya.

Menurutnya inovasi tersebut perlu dikembangkan agar produk lurik Klaten dapat terus dikembangkan. “Kami minta dinas terkait untuk terus memberikan pendampingan,” paparnya.

ATBM portabel tersebut merupakan inovasi yang dikembangkan Suyatmi dan suami, perajin lurik di Dusun Namengan, Desa Karangasem. ATBM portabel tersebut tercetus dari kegelisahannya minat generasi muda untuk meneruskan kerajinan lurik ATBM.

Salah satu masalah pemicunya yaitu sulitnya mengoperasikan ATBM. Hadirnya ATBM tersebut menjadi solusi permasalah tersebut.

“Anak-anak muda kurang minat untuk menenun lurik, salah satunya karena menggunakan ATBM itu berat. Dengan ATBM portabel ini proses menenun jadi lebih mudah,” ungkapnya.

Selain ringan dan mudah dipindahkan, ATBM portabel ini lebih mudah dioperasikan. Sehingga alat tersebut mudah dipelajari dibandingkan ATBM yang ukurannya lebih besar.

“Kalau ATBM yang sudah ada, dioperasikan dengan tangan dan kaki bergerak semua. Untuk ATBM portable ini, cukup dengan tangan,” paparnya.

ATBM karyanya ini menggunakan bahan dasar kayu jati dengan bentuk yang ringkas. Meski demikian, fungsi dari menenun tidak berkurang.

“Bahkan lebih mudah digunakan khususnya motif-motif tenun yang lebih rumit. Di beberapa kesempatan juga saya bawa untuk pameran. Jadi langsung bisa memperlihatkan bagaimana proses produknya dibuat,” katanya.

Suyatmi mengatakan saat ini ATBM portabel ini terus dikembangkan agar semakin memudahkan penggunanya. “Ada beberapa ukuran, 30 sentimeter untuk membuat syal seperti yang dipakai Mas Bupati, ada juga 60 sampai 100 sentimeter tergantung kebutuhan,” ujarnya.

Gunharjo/*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *