IQT UMS Raih Akreditasi Unggul, Siap Cetak Kader Ulama, Dai, hingga Akademisi di Bidang Tafsir

Foto : Dokumentasi

SOLO, SUARASOLO.id – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT) jenjang S1 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) resmi menyandang predikat Akreditasi Unggul. Ketetapan ini dikeluarkan oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dan berlaku efektif mulai 8 April 2026 hingga lima tahun ke depan.

Pencapaian ini menandai lompatan besar bagi IQT UMS yang sebelumnya berada pada peringkat akreditasi B. Keberhasilan ini sekaligus mengukuhkan posisi prodi tersebut sebagai salah satu pusat studi Al-Qur’an terdepan di Indonesia.

Kepala Prodi IQT UMS, Dr. Kharis Nugroho, Lc, M.Ud, menegaskan bahwa prestasi ini adalah buah dari kerja keras kolektif. Ia mengapresiasi dukungan penuh dari universitas, fakultas, hingga peran aktif alumni dan mitra kerja sama.

Kepala Prodi IQT UMS, Dr. Kharis Nugroho, Lc, M.Ud. Foto : Dokumentasi

“Ini bukan hasil kerja individu. Keberhasilan ini adalah buah kolaborasi berbagai pihak, termasuk testimoni positif dari para pengguna lulusan yang merasa puas dengan kualitas alumni kami,” ujar Kharis, Rabu (15/4).

Dalam proses menuju predikat “Unggul”, IQT UMS telah melakukan penguatan di berbagai sektor strategis, di antaranya, sistem tata kelola, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta capaian prestasi dosen dan mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional.

Selain itu, pelaksanaan tridharma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, juga terus ditingkatkan hingga menjangkau level internasional.

Kharis berharap capaian ini menjadi magnet bagi calon mahasiswa baru dan memperkuat kepercayaan publik terhadap kualitas pendidikan di UMS.

“Saya berharap akreditasi unggul ini mampu meningkatkan kepercayaan publik terhadap Prodi IQT UMS, sekaligus mendorong peningkatan jumlah mahasiswa baru serta kualitas pembelajaran yang semakin baik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Kharis memaparkan bahwa Prodi IQT UMS memiliki keunggulan dalam mencetak kader ulama, mufassir, dai, guru Al-Qur’an, hingga akademisi di bidang tafsir.

“Mahasiswa IQT tidak hanya dibekali teori, tetapi juga didorong untuk berkontribusi langsung di masyarakat. Bahkan, banyak mahasiswa yang telah aktif mengajar Al-Qur’an, mengelola lembaga pendidikan, hingga menulis karya keislaman sebelum mereka lulus,” jelasnya.

Meski telah meraih akreditasi unggul, Kharis mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi.

“Salah satunya tantangannya adalah peningkatan kualifikasi dosen, dimana masih ada dosen yang belum S3 atau sedang menempuh studi doktoral. Selain itu, penguatan kerja sama internasional juga menjadi fokus ke depan, khususnya dalam hal implementasi program seperti pertukaran mahasiswa, joint research, serta kolaborasi akademik dengan pakar Al-Qur’an dari berbagai negara,” paparnya.

Dalam pengembangan ke depan, lanjutnya, Prodi IQT UMS juga mulai mengintegrasikan keilmuan tafsir dengan perkembangan teknologi.

Mahasiswa diperkenalkan pada penggunaan teknologi seperti kecerdasan buatan dan analisis bibliometrik dalam studi Al-Qur’an.

Langkah ini diharapkan mampu mempercepat akses terhadap referensi serta membantu memetakan dan menjawab persoalan-persoalan kontemporer secara lebih efektif.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *