Sambut Bhikkhu Thudong di Pura Mangkunegaran, Gusti Bhre: Budaya Menyatukan, Bukan Memisahkan

Foto : Dokumentasi

SURAKARTA, SUARASOALO.id — Pura Mangkunegaran menjadi  bukti nyata kehangatan toleransi di Kota Solo. Sebanyak 50 Bhikkhu Sangha dari berbagai negara di Asia Tenggara yang sedang menjalani ritual jalan kaki (Thudong) menuju Candi Borobudur, singgah dan disambut hangat di Pendopo Ageng Pura Mangkunegaran, Sabtu (23/5/2026).

Rombongan biksu yang berasal dari Thailand, Laos, Malaysia, dan Indonesia ini diterima langsung oleh Penguasa Pura Mangkunegaran, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenagoro X, beserta keluarga besar Mangkunegaran.

Perjalanan spiritual lintas negara ini dilakukan dalam rangka menyambut Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE / 2026. Thudong sendiri merupakan tradisi berjalan kaki dalam ajaran Buddha sebagai bentuk latihan kesederhanaan, disiplin, ketekunan, dan pengendalian diri.

“Langkah-langkah Yang Mulia melintasi negara, kota, dan komunitas membawa sesuatu yang sangat dibutuhkan dunia saat ini: kedamaian, welas asih, kerendahan hati, dan kemanusiaan,” ujar KGPAA Mangkoenagoro X dalam sambutannya.

Pesan Toleransi dari Solo untuk Dunia

Di tengah dinamika dunia yang kerap diwarnai isu perpecahan dan intoleransi, pria yang akrab disapa Gusti Bhre ini menekankan bahwa momentum ini adalah bukti nyata bagaimana budaya dan tradisi bisa menjadi jembatan pemersatu umat manusia.

Menurutnya, perbedaan latar belakang tidak boleh menjadi sekat, melainkan ruang untuk mempertebal rasa empati.

“Kami percaya budaya seharusnya tidak memisahkan manusia, melainkan mendekatkan satu sama lain. Tradisi tidak seharusnya menciptakan jarak, tetapi memperdalam pengertian dan empati antarmanusia,” terangnya.

Kehadiran para Bhikkhu dari berbagai negara Asia Tenggara di Surakarta juga dipandang sebagai cerminan semangat kawasan yang dibangun di atas rasa hormat, hidup berdampingan, dan kebijaksanaan budaya yang diwariskan lintas generasi. KGPAA Mangkoenagoro X juga menyampaikan bahwa kesederhanaan, disiplin, dan ketulusan yang ditunjukkan melalui perjalanan Thudong mengingatkan bahwa perdamaian dibangun melalui tindakan-tindakan sederhana sehari-hari.

“Kebaikan, rasa hormat, kesabaran, welas asih terhadap sesama, dan menciptakan harmoni merupakan nilai-nilai sederhana yang menjadi fondasi bagi terciptanya perdamaian,” ujar beliau.

Sambutan KGPAA Mangkoenagoro X ditutup dengan doa bagi keselamatan dan kedamaian para Bhikkhu dalam melanjutkan perjalanan menuju Candi Borobudur, serta harapan agar Hari Raya Waisak tahun ini menjadi peristiwa refleksi, perdamaian, dan pencerahan bagi masyarakat luas.

“Semoga setiap langkah Yang Mulia membawa berkah kedamaian bagi setiap tempat yang dilalui,” pungkas beliau.

Bhante Tejapunno Mahathera menjelaskan biksu yang bergabung dalam thudong tahun ini berasal dari beberapa negara seperti Malaysia, Thailand, Laos, dan dari Indonesia dengan jumlah mencapai 57 orang. Mereka melakukan perjalanan dari Singaraja menuju ke Candi Agung, Borobudur, dalam rangka memperingati Hari Trisuci Waisak pada 31 Mei 2026.

“Kami sampaikan banyak terima kasih untuk sambutannya. Terima kasih untuk semua sarana fasilitas yang diberikan dari semenjak kami memasuki area Keraton dan juga tentunya harapan kami semua para biksu yang hadir juga membawa manfaat bagi semuanya,” kata dia.

Melalui momentum ini, Pura Mangkunegaran kembali menegaskan komitmennya sebagai ruang terbuka bagi dialog budaya, perjumpaan lintas tradisi, serta penguatan nilai-nilai kemanusiaan, toleransi, dan persaudaraan yang menjadi fondasi kehidupan bersama di Indonesia dan Asia Tenggara.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *