The Unbroken Pinata : Amunisi Punk Rock terbaru dari MONKEY MOSH  

SUARASOLO.id – Monkey Mosh adalah sebuah punk rock band formasi trio berasal dari kota Makassar yang digawangi oleh Andri [Vocal & Bass], Yongki [Vocal & Guitar] dan Alyf [Drum]. Tipikal punk rock yang mereka mainkan sedikit banyak terinspirasi oleh jagoan – jagoan seperti Hi-Standard, No Use For A Name dan band-band melodic punk rock lainnya yang memiliki energi identik.

Mereka baru aja meluncurkan sebuah album perdana yang sangat bagus dan berisikan 4 track berjudul “THE UNBROKEN PINATA”.

Titik awal dimulai dari “Eksistensi Kepalsuan” merupakan sebuah fase social persona, seruan pulang bagi orang-orang diluar sana yang begitu banyak membuang waktu memaksakan diri terlihat “edgy”, ingin menjadi orang lain diberbagai circle, sampai melewatkan potensi dirinya yang sebenarnya.

Lalu track “Defense Mechanism” adalah konflik internal dengan diri sendiri, berbagai pertanyaan tentang impian yang ditinggalkan, bagaimana menghadapi dunia yang tidak adil, ini adalah fase introspeksi yang mendalam.

Selanjutnya track “Berjibaku” adalah fase kemenangan pribadi menjadi dewasa dengan menelan pil pahit kenyataan agar tidak terjebak dalam ilusi hidup yang ideal, lalu menemukan jawaban melanjutkan hidup untuk mereka yang kita sayangi.

Penutup track “The Hope That Will Never Fall” adalah fase another struggle, sebuah estafet dari Berjibaku setelah menemukan kedamaian batin namun api perjuangan diluar diri masih ada dan terus menyala. Track terakhir ini menceritakan solidaritas citizen untuk menciptakankeberlangsungan hidup yang layak dan damai dengan melawan diskresi para elit serta drama  propaganda yang diciptakan.

The Unbroken Pinata telah rampung dikerjakan pada awal tahun 2026, dan sebagai pintu perkenalan bagaimana wujud mereka pada tanggal 16 Januari 2026 lalu juga  sudah merilis lagu Eksistensi Kepalsuan via Youtube dalam format Music Video.

Karya perdana ini di kerjakan dan diproduksi oleh Let’s Move Mountains, sebuah label records skala kecil bertempat di Makassar yang sekaligus menjadi “rumah” bagi mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *