Foto : Dokumentasi
SOLO, SUARASOLO.id – Tampuk kepemimpinan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta resmi berganti. Sri Hartanto terpilih secara aklamasi sebagai Ketua PWI Surakarta periode 2026-2031 dalam Konferensi PWI Surakarta yang digelar di Gedung Monumen Pers, Solo, Sabtu (20/6).
Dalam menakhodai organisasi lima tahun ke depan, Sri Hartanto didampingi oleh mantan Ketua PWI Surakarta periode 2006-2010, Budi Santoso, yang kini dipercaya menjabat sebagai Ketua Dewan Kehormatan. Duet ini membawa visi segar untuk menjawab tantangan industri media digital.

Duet kepemimpinan ini membawa semangat baru untuk memperkuat profesionalisme wartawan, meningkatkan kualitas organisasi, memperluas kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta memperkokoh perlindungan hukum bagi insan pers di tengah pesatnya perkembangan ekosistem media digital.
Usai terpilih, Sri Hartanto menegaskan bahwa kepengurusannya agar tidak terjebak dalam rutinitas organisasi. Ia berkomitmen menghadirkan berbagai terobosan inovatif yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
”Kami ingin PWI Surakarta semakin maju. Peningkatan kompetensi anggota, regenerasi kepemimpinan, serta penguatan integritas profesi akan menjadi fokus utama kepengurusan kami ke depan,” ujar Sri Hartanto.

Ketua PWI Surakarta, Sri Hartanto, SIP
Selain fokus internal, Sri Hartanto juga menekankan pentingnya memperluas kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, hingga komunitas. Menurutnya, jejaring kemitraan yang luas adalah kunci agar PWI dapat memberikan kontribusi nyata bagi dunia pers dan masyarakat.
Di tempat yang sama, Ketua Dewan Kehormatan PWI Surakarta, Dr. Budi Santoso, MSi menyoroti kompleksitas tantangan jurnalistik saat ini. Ia menilai, PWI Surakarta harus hadir sebagai benteng perlindungan, edukasi, dan pendampingan hukum yang kuat bagi para anggotanya.
Budi menekankan pentingnya edukasi mengenai perbedaan produk jurnalistik resmi dengan konten media sosial pribadi agar tidak terjadi salah kaprah dalam penyelesaian sengketa pers.
”Masih banyak yang belum memahami perbedaan produk jurnalistik yang dilindungi Undang-Undang Pers dengan konten blog atau media sosial. Pemahaman ini penting bagi wartawan, aparat penegak hukum, maupun instansi pemerintah,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Kabag Humas Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut.

Ketua Dewan Kehormatan PWI Surakarta, Dr. Budi Santoso, MSi
Tak hanya itu, PWI Surakarta periode ini juga menyatakan dukungan penuh terhadap implementasi Publisher Rights demi melindungi hak ekonomi perusahaan pers dan wartawan di era digital.
”Perlindungan terhadap wartawan tidak hanya menyangkut aspek hukum, tetapi juga bagaimana karya jurnalistik memperoleh penghargaan yang layak sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan para wartawan,” tegas Budi.
Gelaran Konferensi Kota (Konferkot) PWI Surakarta 2026 ini sukses terselenggara berkat dukungan sejumlah mitra strategis, di antaranya D’Lawu Bistro & Mountain Cottage D’Gondangrejo, PT SHA Solo, UMS, The Sunan Hotel Solo, Fim by Zigna Syariah Hotel Solo, serta Toko Roti Ganep’s.
VA PAULO /*

