Poltekkes Kemenkes Surakarta Revitalisasi Posyandu, Perkuat Layanan Primer untuk Cegah Penyakit Jantung

Foto : Dokumentasi

SURAKARTA, SUARASOLO.id — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surakarta menggelar program “Revitalisasi Posyandu dalam Peningkatan Pelayanan Primer Penyakit Jantung” di Kelurahan Mojosongo, Kota Surakarta, bulan April dan Juni 2026 kemarin. Langkah ini berhasil melonjakkan pemahaman serta keterampilan kader Posyandu secara signifikan dalam mendeteksi dini faktor risiko penyakit jantung.

Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Poltekkes Kemenkes Surakarta, Yuyun Setyorini, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas kader ini merupakan bagian dari upaya mendukung transformasi pelayanan kesehatan primer yang berfokus pada langkah pencegahan (preventif) dan promosi kesehatan (promotif).

“Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian, namun sebagian besar faktor risikonya dapat dicegah melalui deteksi dini dan perubahan perilaku hidup sehat. Melalui kader Posyandu yang kompeten, upaya promotif dan preventif dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Yuyun.

Selama dua kali sesi pelatihan, puluhan kader dibekali kemampuan mengenali faktor risiko penyakit jantung, mengoperasikan skrining kesehatan sederhana, menginterpretasikan hasil pemeriksaan, hingga memberikan edukasi langsung ke warga. Pelatihan dikemas secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi kasus, simulasi, dan praktik lapangan.

Kegiatan ini sebagai bagian dari upaya mendukung transformasi pelayanan kesehatan primer yang berorientasi pada upaya promotif dan preventif. Sebanyak 30 kader Posyandu mengikuti dua kali pelatihan yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan dalam mengenali faktor risiko penyakit jantung, melakukan skrining kesehatan sederhana, menginterpretasikan hasil pemeriksaan, serta memberikan edukasi kepada masyarakat.

Pelatihan dilaksanakan secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi kasus, simulasi, dan praktik langsung sehingga kader tidak hanya memahami konsep, tetapi juga mampu mengaplikasikannya di lapangan.

Evaluasi sebelum dan sesudah pelatihan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi kader yang signifikan. Rata-rata nilai pengetahuan meningkat dari 62 (saat pre-test) menjadi 89 (saat post-test).. Selain itu, hasil observasi praktik menunjukkan peningkatan keterampilan kader dalam melaksanakan skrining dan edukasi kesehatan dari 60 persen menjadi 90 persen.

Hasil positif ini membuktikan bahwa pelatihan interaktif tersebut efektif meningkatkan kesiapan para kader sebagai garis terdepan sekaligus mitra tenaga kesehatan dalam menekan angka kasus penyakit jantung di tingkat masyarakat.

Setelah mengikuti pelatihan, para kader bersama tim pengabdian melaksanakan skrining faktor risiko penyakit jantung terhadap 98 masyarakat di wilayah Mojosongo. Pemeriksaan meliputi pengukuran tekanan darah, indeks massa tubuh, lingkar perut, riwayat hipertensi dan diabetes melitus, kebiasaan merokok, aktivitas fisik, pola konsumsi makanan, serta faktor risiko lain yang berkaitan dengan penyakit jantung.

Hasil skrining menunjukkan bahwa 47 orang (47,96%) berada pada kategori risiko rendah, 33 orang (33,68%) termasuk risiko sedang, sedangkan 18 orang (18,36%) masuk dalam kategori risiko tinggi. Temuan ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta skrining memiliki faktor risiko sedang hingga tinggi sehingga memerlukan edukasi, pemantauan, dan tindak lanjut secara berkesinambungan.

Menurut Yuyun, hasil skrining tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi intervensi berbasis masyarakat. Warga yang memiliki faktor risiko sedang dan tinggi akan menjadi prioritas dalam kegiatan edukasi kesehatan, pemantauan rutin oleh kader Posyandu, serta koordinasi dengan Puskesmas apabila diperlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian juga menyelenggarakan forum pembahasan hasil skrining bersama kader Posyandu dan tenaga kesehatan dari Puskesmas. Kegiatan ini bertujuan menginterpretasikan hasil skrining, mengidentifikasi kelompok masyarakat yang memerlukan pendampingan, serta menyusun langkah-langkah penguatan pelayanan kesehatan primer di tingkat Posyandu.

Kolaborasi antara Poltekkes Kemenkes Surakarta, Dinas Kesehatan Kota Surakarta, dan Puskesmas Sibela menjadi salah satu kekuatan dalam pelaksanaan program ini. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperkuat peran posyandu sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat yang tidak hanya berfokus pada kesehatan ibu dan anak, tetapi juga berperan aktif dalam pencegahan penyakit tidak menular, khususnya penyakit jantung.

Program revitalisasi ini membuktikan bahwa pemberdayaan kader merupakan investasi penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang semakin baik, kader Posyandu diharapkan mampu menjadi agen perubahan di masyarakat melalui pelaksanaan deteksi dini, edukasi kesehatan, pemantauan faktor risiko, serta pendampingan masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup sehat.

Melalui pengabdian kepada masyarakat yang didukung oleh pendanaan BOPTN Poltekkes Kemenkes Surakarta, institusi terus menunjukkan komitmennya dalam menghasilkan inovasi dan pemberdayaan masyarakat yang berdampak nyata.

Ke depan, model revitalisasi Posyandu ini diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai salah satu strategi memperkuat pelayanan kesehatan primer dan menekan beban penyakit jantung di Indonesia.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *