Menjelang HUT Ke-81, Jateng Pacu Konektivitas Ekonomi Lewat Peningkatan Jalan dan Jembatan

Foto: Humas Jateng

SEMARANG, SUARASOLO.id — Menyongsong Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menggenjot percepatan pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur. Langkah ini diambil guna memangkas biaya logistik, meningkatkan daya saing daerah, serta memacu pertumbuhan ekonomi dan pariwisata secara merata.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa pembangunan jalan dan jembatan tidak hanya sekadar pembangunan fisik semata, melainkan modal utama untuk mempermudah mobilitas masyarakat dan distribusi barang.

“Jalan ini kita bangun bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” ujar Ahmad Luthfi dalam keterangannya.

Berdasarkan data Pemprov Jateng, tingkat kemantapan jalan provinsi sempat menyentuh angka 94,01 persen atau sepanjang 2.293,96 kilometer dari total 2.440,12 kilometer pada akhir 2025. Namun, akibat tingginya curah hujan pada awal tahun yang mengikis lapisan aspal, kemantapan jalan pada triwulan II-2026 tercatat di angka 87,79 persen.

Merespons kondisi tersebut, Gubernur Ahmad Luthfi menggelontorkan anggaran tambahan untuk mempercepat pemeliharaan dan perbaikan jalan-jalan yang rusak di berbagai wilayah. Penanganan diprioritaskan pada jalur yang menjadi urat nadi perekonomian, pariwisata, dan wilayah perbatasan.

Dua contoh paket preservasi atau pemeliharaan jalan pada semester II-2025 adalah ruas jalan Parakan (Temanggung)—Patean (Kendal) dan ruas Jalan Wonosobo—Dieng (Banjarnegara). Keduanya dikerjakan pada periode Juli-Desember 2025 dan diresmikan pada 2026. Keduanya merupakan ruas jalan penghubung antardaerah yang mendukung aktivitas perekonomian dan pariwisata.

“Terima kasih atas perbaikan jalan yang sudah dilakukan. Itu sangat bermanfaat dalam mendukung aktivitas sehari-hari masyarakat. Semoga jalan di titik lain juga dibangun agar semua ikut merasakan pembangunan yang dilakukan,” ujar Kepala Desa Ngadirejo Muhammad Abdillah Al Kafi.

Pada tahun 2026, hingga triwulan II, kemantapan jalan provinsi mencapai 87,79%. Salah satu faktor penurunan kemantapan jalan adalah curah hujan tinggi sepanjang triwulan I-2026 yang mengikis lapisan aspal jalan. Hingga akhir 2026 ditergetkan kembali 94 persen.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah komando Gubernur Ahmad Luthfi langsung menyiapkan percepatan rehabilitasi jalan provinsi guna mengembalikan kemantapan jalan minimal seperti tahun sebelumnya, bahkan anggaran tambahan digelontorkan untuk penanganan jalan rusak dan berlubang di berbagai daerah. Tentu saja yang menjadi prioritas adalah jalan-jalan yang menjadi urat nadi dan mendukung pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

Peningkatan dan rehabilitasi jalan di berbagai wilayah yang sudah dilakukan pada 2026, meliputi ruas jalan Singget–Doplang–Cepu (Kabupaten Blora), Jepara–Keling (Kabupaten Jepara), Wiradesa–Kajen (Kabupaten Pekalongan), dan jalur penyelamat Kalijambe (Magelang – Purworejo).

Selain itu, tambahan anggaran yang diberikan Ahmad Luthfi juga menyentuh beberapa ruas jalan lain, seperti Brebes, Pemalang, dan Batang. Juga ruas jalan di daerah perbatasan seperti Randublatung—Cepu (Blora) serta sejumlah ruas jalan di Wonogiri yaitu Ngadirojo—Biting dan Ngadirojo—Giriwoyo (keduanya berbatasan dengan Jatim).

“Terima kasih pad Pak Gubernur mengalokasikan pembangunan jalan di Wonogiri. Setelah jadi, bisa bermanfaat untuk meningkatkan kesejahteran warga,” kata Kepala DPUPR Kabupaten Wonogiri, Prihadi Ariyanto.

Di samping itu, penanganan jalan daerah juga menjadi prioritas. Dalam hal ini juga melibatkan kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan pemerintah pusat. Tercatat pada tahun 2025, Inpres Jalan Daerah (IJD) telah mengintervensi hingga tuntas 30 paket pekerjaan penanganan jalan dengan total sepanjang 132,62 kilometer. Puluhan paket tersebut tersebar di 19 kabupaten/kota.

Bahkan pada 2026 ini, Ahmad Luthfi  bersama bupati dan walikota sudah mengusulkan ke pemeintah pusat untuk penanganan jalan sepanjang 36,30 kliometer dan penanganan jembatan sepanjang 249,70 meter.

Menurut  Luthfi, pembangunan infrastruktur jalan menjadi salah satu strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi baru serta pariwisata di Jawa Tengah. Infrastruktur yang baik akan memperlancar mobilitas masyarakat serta distribusi barang dan jasa antardaerah. Membangun infrastruktur jalan juga untuk keselamatan masyarakat.

“Jalan ini kita banguan bukan sekadar fisiknya, tetapi agar pergerakan orang dan barang bisa berjalan dengan lancar dan aman. Kalau infrastrukturnya baik, konektivitas wilayah meningkat dan ekonomi masyarakat juga ikut bergerak,” katanya.

Perihal infrastruktur tentu saja tidak hanya tentang jalan dan jembatan. Sebagai provinsi yang menjadi salah satu lumbung pangan nasional, infrastruktur penunjang pertanian juga tidak kalah penting. Misalnya terkait embung dan sistem pengairan lahan pertanian.

Berdasarkan data, sepanjang tahun 2025 terdapat delapan pembangunan embung baru dan dua revitalisasi embung, sedangkan hingga awal tahun 2026, Gubernur Ahmad Luthfi sudah meresmikan hingga 12 embung yang tersebar di berbagai daerah.

Salah satu contohnya adalah Embung Kerangjati di Blora, pembangunan embung tersebut telah dirasakan manfaatnya oleh petani dan lahan pertanian dengan luas sekiyar 40 hektare. Masa tanam padi sebelum ada embung biasanya satu kali karena mengandalkan tadah hujan. Setelah embung jadi masa tanam bisa lebih dari dua kali dalam setahun.

“Sumber air di sini tadah hujan. Tanam padi cuma sekali, kalua coba dua kali banyak gagalnya karena kurang air. Dengan bantuan embung ini bisa menanam sampai tiga kali,” kata perwakilan kelompok tani Sidodadi Kelurahan Karangjati, Karyono, saat peresmian embung pada 2 Maret 2026 lalu.

Gubernur Ahmad Luthfi, mengatakan pembangunan embung merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menyediakan air baku serta memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ketahanan pangan.

Ia berharap, embung-embung yang telah dibangun dan diresmikan tersebut dapat dikelola dan dirawat bersama oleh Masyarakat sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

“Dalam pertanian itu kuncinya air. Orang menanam itu kuncinya air. Oleh karena itu kita bangun embung untuk menampung air hujan supaya saat kemarau masih bisa dimanfaatkan untuk mengairi sawah,” katanya saat meresmikan Embung Plosorejo di Desa Guworejo, Kecamatan Karangmalang, Kabupaten Sragen.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *