Dongkrak Minat Baca Generasi Muda, Pemprov Jateng Minta Perpustakaan Berubah Jadi Tempat Nongkrong Asyik

Foto : Humas Jateng

SEMARANG, SUARASOLO.id — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus memutar otak untuk menggenjot minat baca masyarakat hingga ke tingkat akar rumput. Salah satu strategi utamanya adalah merombak total wajah dan fungsi perpustakaan daerah agar tak lagi berkesan kaku, melainkan menjadi tempat yang relevan dan menarik bagi generasi muda.

Hal tersebut ditegaskan oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, saat menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi X DPR RI di Kantor Perpustakaan Daerah Provinsi Jateng, Semarang, Kamis (20/8/2026).

Menurut Taj Yasin, pergeseran paradigma digital membuat angka kunjungan fisik ke perpustakaan terus menurun. Generasi muda cenderung menganggap semua akses literasi sudah selesai di genggaman ponsel. Oleh karena itu, perpustakaan dituntut untuk beradaptasi dan berinovasi.

“Perpustakaan dituntut tidak hanya menjadi tempat menyimpan buku, tetapi harus menjadi wadah literasi yang mampu memahami kebutuhan anak-anak zaman sekarang,” ujar Taj Yasin mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Sebagai komitmen nyata, Pemprov Jateng mulai membenahi berbagai fasilitas perpustakaan daerah. Salah satu langkah unik yang dilakukan adalah menghadirkan area kafe di lantai atas gedung perpustakaan untuk menciptakan suasana santai yang disukai anak muda. Langkah pembenahan serupa juga didorong agar diterapkan pada perpustakaan sekolah, baik negeri maupun swasta.

Selain meremajakan ruang fisik perpustakaan, Pemprov Jateng juga mengoptimalkan peran Bunda PAUD, Bunda Literasi, dan Bunda Posyandu untuk menggerakkan literasi keluarga dari level bawah. Meskipun demikian, Taj Yasin mengakui bahwa keterbatasan jumlah tenaga pengelola perpustakaan profesional di tingkat daerah masih menjadi tantangan utama yang tengah diselesaikan.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, MY Wijayati, mengatakan persoalan pustakawan dan anggaran menjadi dua hal penting yang perlu segera mendapat perhatian.

Menurutnya, kebutuhan pustakawan tidak hanya berkaitan dengan jumlah tenaga, tetapi juga menyangkut kepastian pengembangan karier dan kesejahteraan.

Ia mengatakan persoalan tersebut tidak hanya terjadi di Jawa Tengah, tetapi juga menjadi persoalan secara nasional. Padahal, peningkatan literasi masyarakat berkaitan erat dengan upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Esti menilai, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Karena itu, kebijakan untuk memperkuat perpustakaan perlu didorong secara bersama-sama, baik oleh pemerintah pusat maupun daerah.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *