Festival Gamelan Ajang Pertemuan Tradisi Musik Nusantara

Foto: dokumentasi

SURAKARTA, SUARASOLO.id

Wali Kota Surakarta Respati Ahmad Ardianto membuka Festival
Gamelan Nusantara di Taman Monumen 45 Banjarsari, Jumat malam. Festival
tersebut merupakan bagian dari Gelar Karya Terpadu Mahasiswa Karawitan
Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan tema Gamelan Nusantara dengan
Tembang Dolanan. Jumat 21 Agustus 2026
Pembukaan berlangsung semarak. Respati hadir bersama Rektor ISI Surakarta,
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, serta sejumlah tamu
undangan.

Mereka secara simbolis membuka festival dengan menabuh alat
musik tradisional Nusantara.
Respati juga ikut memainkan gamelan bersama para mahasiswa dan tamu
undangan. Momen tersebut menjadi bagian dari pembukaan resmi pertunjukan
yang mengajak penonton menikmati keragaman musik tradisional dari berbagai
daerah.
Festival Gamelan Nusantara tidak hanya menampilkan gamelan dari Surakarta.
Pertunjukan mempertemukan empat karakter musikal Nusantara, yakni
Surakarta, Banyumas, Bali, dan Banyuwangi. Keempatnya hadir dengan warna,
karakter, dan kekayaan musikal masing-masing dalam satu panggung
pertunjukan.


Konsep tersebut membuat festival menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi
musik Nusantara. Perbedaan karakter musikal justru menjadi kekuatan utama
pertunjukan.
Tema Tembang Dolanan turut menjadi benang merah festival. Lagu-lagu
permainan anak yang lekat dengan ingatan masyarakat dihadirkan kembali
melalui perpaduan gamelan dan pertunjukan seni.
Tembang dolanan bukan sekadar permainan masa lalu. Di dalamnya terdapat
berbagai nilai kehidupan yang tumbuh melalui aktivitas bermain bersama. Anak-
anak belajar mengenal aturan, bergiliran, bekerja sama, menghargai teman,
menerima kemenangan maupun kekalahan, serta membangun hubungan sosial.
Festival tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan kembali nilai-
nilai itu kepada generasi muda melalui pendekatan seni pertunjukan.
Kehadiran anak-anak dalam festival menjadi bagian penting dari pertunjukan.
Seni tradisi ditempatkan bukan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan
generasi muda, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dinikmati dan
dipelajari secara langsung.

Pertunjukan juga memberikan ruang bagi anak-anak berkebutuhan khusus untuk
terlibat. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa panggung seni dapat menjadi
ruang yang terbuka bagi siapa saja.
Festival Gamelan Nusantara menghadirkan seni sebagai bagian dari kehidupan
bersama. Panggung tidak hanya menjadi tempat mempertontonkan kemampuan
musikal, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan masyarakat dengan tradisi.
Kolaborasi antara ISI Surakarta dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Surakarta memperlihatkan adanya sinergi antara lembaga pendidikan seni dan
pemerintah daerah dalam mengembangkan kebudayaan.
Mahasiswa menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan. Mereka
tidak hanya tampil sebagai pemain gamelan, tetapi juga terlibat dalam proses
penciptaan dan penyajian karya.
Pertunjukan malam itu turut dimeriahkan sejumlah seniman dan bintang tamu.
Kehadiran mereka memperkaya sajian festival sekaligus memperluas
perjumpaan antara tradisi akademik, seniman, mahasiswa, dan masyarakat.
Pembukaan festival berlangsung dengan prosesi penabuhan alat musik
tradisional. Respati bersama Rektor ISI Surakarta dan sejumlah pejabat serta
tamu undangan kemudian bergabung memainkan gamelan.
Momen tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam pembukaan. Para
pejabat dan tamu undangan berada di tengah para mahasiswa untuk
memainkan instrumen gamelan secara bersama-sama.
Suasana semakin meriah ketika penonton memberikan tepuk tangan setelah
prosesi penabuhan selesai. Pembukaan kemudian dilanjutkan dengan rangkaian
pertunjukan Festival Gamelan Nusantara.
Salah satu kekuatan festival terletak pada keberagaman materi musikal yang
ditampilkan. Surakarta, Bali, dan Banyuwangi memiliki tradisi gamelan dengan
karakter yang berbeda.
Gamelan menjadi medium untuk memperlihatkan bahwa keragaman budaya
dapat berjalan berdampingan. Setiap perangkat musik memiliki fungsi berbeda,
tetapi seluruhnya membentuk satu kesatuan musikal.
Konsep itu kemudian diterjemahkan melalui kolaborasi para pemain dalam
pertunjukan. Penonton diajak berkelana menikmati berbagai warna gamelan
Nusantara sekaligus mengenali kembali tembang-tembang dolanan yang menjadi
bagian dari memori kolektif masyarakat.

Bagi Surakarta, kegiatan tersebut memperkuat posisi kota sebagai salah satu
pusat kehidupan seni dan budaya di Indonesia. Kehadiran ISI Surakarta dan
komunitas seni menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan tradisi.
Festival juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berhenti pada
kegiatan seremonial. Tradisi dapat terus berkembang melalui pendidikan,
pertunjukan, penelitian, kreativitas mahasiswa, serta keterlibatan masyarakat.
Kehadiran generasi muda menjadi kunci dalam proses tersebut. Mereka menjadi
penerus sekaligus pihak yang akan menentukan bagaimana kesenian tradisional
berkembang pada masa mendatang.
Melalui Festival Gamelan Nusantara, gamelan ditempatkan sebagai kesenian
yang terus bergerak. Tradisi dipertemukan dengan kreativitas baru tanpa
melepaskan akar kebudayaannya.
Rangkaian pertunjukan berlangsung dengan suasana meriah di kawasan Taman
Monumen 45 Banjarsari. Masyarakat dan para tamu undangan menyaksikan
kolaborasi musik tradisional yang menggabungkan berbagai gaya gamelan
Nusantara.
Festival Gamelan Nusantara dengan tema Tembang Dolanan akhirnya menjadi
ruang perjumpaan antara tradisi, pendidikan seni, generasi muda, dan
masyarakat.
Pembukaan oleh Respati menandai dimulainya rangkaian pertunjukan yang
diharapkan dapat memperkuat keberadaan gamelan dan tembang dolanan
sebagai bagian dari kehidupan kebudayaan masyarakat Surakarta.
Lebih dari sekadar pertunjukan, festival tersebut menjadi gambaran bagaimana
kesenian tradisional dapat terus hadir di tengah perubahan zaman: dimainkan,
dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *