FESPIN XIII Solo 2026: “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, Hadirkan 150 Grup Seni

Ilustrasi dokumentasi

SOLO, SUARASOLO.id

Apa jadinya jika sejarah padi, sosok Dewi Sri, seni pertunjukan, payung dan diplomasi budaya Asia bertemu dalam satu panggung? Jawabannya dapat ditemukan dalam Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII yang digelar di Taman Balekambang, Solo, 4–6 September 2026.

Mengusung tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, FESPIN XIII tidak hanya menawarkan tontonan seni dan budaya. Festival ini mengajak masyarakat menengok kembali perjalanan panjang padi hingga menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, nasi bahkan memiliki makna yang lebih dari sekadar makanan. Ungkapan “belum makan nasi” sering digunakan untuk menggambarkan seseorang yang belum makan.

Namun, padi ternyata bukan tanaman asli Indonesia. Dalam pers rilis FESPIN 2026 disebutkan, sebelum mengenal beras, nenek moyang masyarakat Nusantara mengonsumsi bahan pangan seperti singkong, ubi jalar, talas hingga jewawut.

Benih padi disebut mulai masuk ke Nusantara sekitar 1.500 SM dari Tiongkok dan India melalui jalur perdagangan.

Jejak sejarah tersebut antara lain ditemukan melalui sekam padi di Gua Maros, Sulawesi Selatan, jejak sekam di Candi Batujaya, Karawang, serta relief pertanian sawah dan hama tikus di Candi Borobudur.

Dari Padi Lahir Mitologi Dewi Sri

Perkembangan budaya bertanam padi kemudian melahirkan penghormatan terhadap sosok Dewi Padi sebagai simbol kesuburan dan kehidupan.

Di sejumlah wilayah Indonesia, sosok tersebut dikenal dengan nama berbeda. Masyarakat Jawa, Bali, Lombok dan Sulawesi mengenalnya sebagai Dewi Sri, masyarakat Sunda sebagai Nyi Pohaci, sedangkan dalam tradisi Bugis dikenal sebagai Sangiang Serri.

Tradisi tersebut kemudian menginspirasi berbagai bentuk kebudayaan, mulai dari tari, musik, ritual panen hingga sistem penanggalan pertanian Pranata Mangsa.

Dari latar sejarah dan mitologi itulah FESPIN 2026 mengambil tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”.

Festival ini ingin mengajak masyarakat tidak sekadar menikmati karya seni, tetapi juga memahami sejarah padi sekaligus menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya ketahanan pangan nasional.

150 Grup Seni Meriahkan FESPIN

Rangkaian FESPIN XIII diawali dengan Parade Payung Nusantara dan Pasar Festival.

Pasar festival menghadirkan pameran produk craft dan fashion yang melibatkan berbagai UMKM dan komunitas. Artisan asal Jepang, Sachiyo Sakakibara, juga turut menampilkan karya desain fashion.

Pengunjung juga dapat menikmati beragam sajian melalui Pasar Kuliner.

Panggung seni menjadi salah satu magnet utama festival. Sebanyak 150 grup seni dari berbagai kota di Indonesia dijadwalkan tampil melalui tari, musik dan dance fashion.

Peserta berasal antara lain dari Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Tangerang Selatan, Sulawesi Selatan, Bogor, Bandar Lampung, Samarinda, Banyuasin, Malang, Pasuruan, Yogyakarta, Cilacap dan berbagai kota lainnya.

Empat Negara Asia Kolaborasi Lewat Fashion Show

FESPIN XIII juga membawa misi diplomasi budaya Asia.

Empat delegasi negara, yakni Thailand, Korea Selatan, Indonesia dan India, akan berkolaborasi dalam sebuah fashion show yang menampilkan pakaian tradisional masing-masing negara.

Thailand membawa busana tradisionalnya, Korea Selatan dengan hanbok, Indonesia dengan kebaya, sementara India menampilkan sari.

Penari asal Korea Selatan, Hueng Won Lee, juga dijadwalkan menampilkan karya tari tunggal.

Selain itu, FESPIN menghadirkan pameran 250 karya seni anak-anak dan remaja dari Korea, India, Mongolia, Polandia, Jepang dan Vietnam.

Ada pula Workshop Lukis Kipas Korea.

Delegasi Pakistan turut ambil bagian melalui booth yang menghadirkan kuliner biryani, promosi busana Pakistan dan aktivitas melukis henna pada tangan.

Bukan Sekadar Festival Seni

FESPIN XIII juga membuka ruang edukasi melalui diskusi, sarasehan dan workshop di Stand Rumah Padi.

Sejumlah agenda yang disiapkan antara lain sarasehan “Sejarah Padi di Nusantara” oleh Temanggung Heritage, workshop bubur sorgum, sarasehan “Dari Sawah ke Meja Makan”, serta workshop pupuk organik cair.

Ada pula workshop “Naik Kelas Lewat Festival: Strategi Branding & Promosi Produk di Era Experience Economy” oleh Vega Viditama.

FESPIN juga menghadirkan Sister Festival Talkshow: Dari Jejaring Kerja Festival Menuju Diplomasi Budaya dan Kolaborasi Global.

Forum tersebut membahas bagaimana warisan budaya dapat menjadi jembatan hubungan antarnegara sekaligus membuka peluang kolaborasi di bidang seni, pariwisata dan ekonomi kreatif.

Sementara itu, Festival Futures Forum menjadi ruang dialog antarpengelola festival untuk membicarakan masa depan festival sebagai ekosistem kebudayaan yang berdampak terhadap masyarakat, ekonomi kreatif, pariwisata, diplomasi budaya, jejaring internasional dan keberlanjutan lingkungan.

Forum tersebut diikuti pengelola Festival Cisadane, Asia Africa Festival dan Atourin.

Luncurkan Buku tentang Dewa-Dewi Kesuburan

FESPIN XIII juga memperkuat aspek literasi.

Pada festival tahun ini akan diluncurkan buku kelima berjudul “Catra Padi, Kumpulan Dewa Dewi Kesuburan”.

Buku tersebut merupakan karya kolaboratif yang ditulis oleh 47 partisipan penulis.

Melalui festival ini, masyarakat diajak melihat padi bukan sekadar sebagai bahan pangan yang berakhir menjadi nasi di atas piring.

Padi merupakan bagian dari perjalanan panjang sejarah, budaya, mitologi dan kehidupan masyarakat.

“Catra Padi – Sepayung Dewi Sri” menjadi pesan bahwa sebuah identitas budaya tidak lahir secara instan. Ada perjalanan panjang, percampuran, adaptasi dan proses penerimaan yang membentuknya.

FESPIN 2026 mengajak publik untuk menghargai proses tersebut sekaligus merawat identitas budaya dan kesadaran bersama mengenai pentingnya ketahanan pangan.

Leksono


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *