Tegal Business Forum 2026: Gubernur Ahmad Luthfi Tekankan Hasil Investasi Konkret, Bukan Sekadar Seremoni

Foto : Humas Jateng

TEGAL, SUARASOLO.id — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan agar gelaran Tegal Business Forum 2026 tidak berhenti sebagai ajang seremonial belaka. Ia meminta forum tahunan tersebut mampu melahirkan kesepakatan bisnis dan komitmen investasi nyata demi memacu pertumbuhan ekonomi Kota Tegal dan sekitarnya.

Pernyataan tegas tersebut disampaikan Luthfi saat menghadiri langsung pembukaan forum bisnis di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026).

“Business forum harus berorientasi pada hasil, jangan hanya orientasi kegiatan. Harus ada yang dijual kepada pelaku usaha, kemudian ada MoU atau kerja sama, sehingga hasilnya jelas dan dapat diukur,” tegas Ahmad Luthfi di sela-sela acara.

Luthfi menilai, di tengah dinamika dan keterbatasan fiskal pemerintah saat ini, keterlibatan aktif dunia usaha dan sektor perbankan menjadi kunci utama. Menurutnya, sinergi tiga pilar—pemerintah, pelaku bisnis, dan lembaga keuangan—sangat krusial untuk menciptakan titik-titik pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

Forum yang mempertemukan jajaran pemerintah daerah, investor, serta perbankan ini diharapkan tidak sekadar menjadi ajang bertukar ide, melainkan berlanjut pada penandatanganan kerja sama bisnis (MoU) yang langsung berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan peningkatan daya beli masyarakat Tegal.

Sebab, APBD Provinsi Jawa Tengah sekitar Rp23 triliun harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan 35 kabupaten dan kota, mulai dari pelayanan dasar hingga pembangunan infrastruktur. Karena itu, pemerintah daerah tidak dapat hanya mengandalkan anggaran pemerintah.

“Di tengah geopolitik dunia dan keterbatasan fiskal, pejabat publik harus kreatif mencari sumber pertumbuhan baru. Caranya dengan menumbuhkan ekonomi baru di wilayah melalui investasi dan kolaborasi,” ujar Luthfi.

Ia mendorong setiap kawasan eks-karesidenan memiliki pusat pertumbuhan ekonomi yang saling terhubung. Kota Tegal, misalnya, dapat menjadi hub pertumbuhan ekonomi di wilayah Tegal Raya dengan dukungan Kabupaten Tegal dan Brebes. Setiap daerah, lanjutnya, memiliki potensi dan kearifan lokal yang berbeda. Kota Tegal mempunyai kekuatan di sektor maritim, perdagangan, jasa, kuliner, dan kewirausahaan. Potensi tersebut harus dikemas dan ditawarkan secara konkret kepada investor.

“Bupati dan wali kota harus menjadi marketing manager bagi daerahnya. Mereka harus memahami potensi wilayah, menjual daerahnya, memberikan kepastian, dan menyelesaikan kendala investor,” tegasnya.

Luthfi menilai, Jawa Tengah masih menjadi salah satu daerah yang menarik bagi investor. Hal itu didukung kondisi keamanan yang kondusif, kepastian hukum, kemudahan perizinan, tenaga kerja yang kompetitif, serta kesiapan kawasan industri. Pada 2025, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp110,64 triliun dan menyerap lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Sementara pada Triwulan I 2026, investasi mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan sekitar 92 ribu tenaga kerja. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada periode tersebut mencapai 5,89 persen, lebih tinggi dibandingkan nasional sebesar 5,61 persen.

Kota Tegal juga mencatatkan kinerja positif. Realisasi investasinya pada 2025 mencapai Rp791,67 miliar atau 132 persen dari target. Pada Triwulan I 2026, Kota Tegal kembali masuk dalam 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah.

Luthfi menandaskan, investasi besar harus berjalan beriringan dengan penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah. Jawa Tengah memiliki sekitar 4,9 juta pelaku UMKM yang perlu terus didorong naik kelas melalui pendampingan, perluasan akses pasar, dan dukungan permodalan. Dalam hal tersebut, Bank Jateng diminta menjadi salah satu tulang punggung pembiayaan UMKM sekaligus memperluas layanan kepada perusahaan swasta.

Direktur Utama Bank Jateng Bambang widyatmoko mengatakan, Tegal Business Forum merupakan bentuk kolaborasi strategis antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan Bank Jateng. Forum itu juga menjadi tindak lanjut arahan Gubernur agar Bank Jateng tidak hanya mengelola transaksi pemerintah, tetapi semakin aktif melayani sektor swasta.

“Kami ingin memperluas layanan kepada dunia usaha dan perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Jawa Tengah. Dana yang dihimpun juga kami salurkan kepada sektor produktif, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah, hingga komersial,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menyebut forum tersebut menghadirkan sekitar 100 pengusaha besar asal Kota Tegal, 100 pelaku usaha kuliner, restoran, kafe, dan lounge, serta perwakilan dari sekitar 20 perusahaan penanaman modal asing. Ia berharap forum tersebut dapat mendorong pemanfaatan aset dan lahan strategis yang selama ini belum produktif, sekaligus menarik investasi baru di sektor perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, dan fasilitas publik.

Tegal Business Forum 2026 mengusung tema “Amazing Tegal, Amazing Investment, and Amazing Service”. Pemerintah Kota Tegal berkomitmen memberikan kemudahan pelayanan dan perizinan bagi pelaku usaha yang ingin mengembangkan investasinya di Kota Tegal.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *