Banjir Pujian Jemaah Haji Asal Indonesia, Makanan Siap Saji Asal Solo “MakanKu” Memuaskan

Foto : Dokumentasi

MEKKAH, SUARASOLO.id — Produk makanan siap saji atau Ready to Eat (RTE) “MakanKu” produksi PT Halalan Thayyiban Indonesia (HATI) asal Solo, sukses mencuri perhatian jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Di tengah ketatnya fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), kuliner praktis ini justru dinilai lebih memuaskan dibanding katering segar lokal.

Keunggulan produk milik H. Puspo Wardoyo ini viral di media sosial. Melalui akun TikTok @quinakuembunku, seorang jemaah memuji menu semur ayam yang disantapnya.

“Ini ada nasi uduk, ayamnya irisannya besar-besar, terus ada kentang yang lembut sekali. Rasanya autentik, benar-benar sesuai dengan lidah orang Indonesia,” ujarnya.

Pujian senada datang dari akun @kang.susanto saat mengulas menu rendang daging. Ia terkesan dengan porsi yang royal. “Ini jumlah lauknya segini banyak, sama seperti jumlah nasinya,” ungkapnya.

Menanggapi respons positif tersebut, Owner PT Halalan Thayyiban Indonesia sekaligus pendiri Wong Solo Grup, Puspo Wardoyo, menjelaskan bahwa penggunaan RTE pada musim haji 2026 merupakan langkah strategis pemerintah. Saat jemaah bergerak ke Armuzna, dapur katering lokal ikut berpindah sehingga distribusi makanan segar menjadi sangat krusial dan menantang.

Apalagi, operasional di lapangan harus berhadapan dengan kepadatan jutaan manusia dan suhu ekstrem yang mencapai 50 derajat Celsius. Kondisi tersebut rawan memicu keterlambatan distribusi hingga kerusakan makanan.

“Kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staf dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi terbatas, maka pemerintah mengarahkan penggunaan makanan RTE,” kata Puspo saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).

Puspo menambahkan, jemaah menyukai menu RTE karena bumbunya lebih meresap. “Komentar yang kami terima, makanan ini lebih enak daripada makanan fresh. Bumbunya lebih terasa dan rasanya lebih Indonesia,” imbuhnya.

Selama fase puncak haji, distribusi konsumsi jemaah dilakukan secara hybrid dengan total 15 kali makan, yang mengombinasikan makanan segar dan produk RTE.

Lebih lanjut Puspo mengatakan, penggunaan RTE pada musim haji 2026 bukan tanpa alasan. Saat seluruh jamaah mulai bergerak menuju Armuzna, sebagian dapur katering juga harus berpindah lokasi sehingga distribusi makanan segar menjadi lebih sulit.

Saat memantau proses distribusi makanan haji di Arab Saudi, Puspo menjelaskan pada 7 Zulhijah, jamaah mendapatkan tiga kali makan menggunakan RTE, yakni sarapan, makan siang, dan makan malam.

Sedang pada 8 Zulhijah, RTE diberikan untuk sarapan sebelum jemaah bergerak menuju Mina dan Arafah.

Selama berada di Armuzna, skema konsumsi dilakukan secara hybrid. Dari lima belas  kali makan yang diterima jamaah, tiga kali menggunakan RTE  full meal ( Nasi dan lauk ), enam kali makan Lauknya RTE -Nasi Fresh dan enam kali lainnya berupa makanan segar.

Respons positif dari jamaah memberikan harapan agar menu siap saji khas Indonesia tersebut tidak hanya diberikan saat puncak haji.

“Jadi dengan adanya kehadiran RTE ini, mereka senang dan variasi. Harapannya mungkin tidak hanya di Armuzna, namun juga di Madinah maupun Mekkah juga bisa diberikan sebagai variasi,” kata Puspo usai mendengar komentar pada jamaah haji tentang produknya.

Adapun beberapa menu makanan siap saji yang disajikan antara lain semur ayam, semur daging, rendang ayam, rendang daging, balado ikan, gulai ikan, hingga empal serundeng.

Menurut, owner Wong Solo Grup itu, bermacam menu tersebut memberikan alternatif rasa yang berbeda dibanding makanan yang biasa diterima para jamaah selama berada di Arab Saudi.

Dinilai jadi solusi distribusi makanan saat puncak haji.

Puspo menambahkan, distribusi makanan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan ibadah haji. Suhu udara yang mencapai 50 derajat Celsius, kepadatan jutaan jamaah, hingga keterbatasan akses distribusi sering menyebabkan keterlambatan bahkan kerusakan makanan.

“Kondisi saat itu memang cukup sulit. Karena staff dan karyawan dapur juga bergerak ke Armuzna dan akses distribusi juga terbatas, maka pemerintah mengarahkan penggunaan makanan RTE,” ungkapnya.

Tak hanya membantu jamaah, kehadiran RTE juga meringankan beban operasional dapur katering yang harus memasak dalam kondisi cuaca ekstrem dan infrastruktur terbatas.

“Dapur juga terbantu karena kondisi di Armuzna sangat berat. Infrastruktur terbatas dan proses memasak dilakukan dalam suhu yang sangat panas,” jelasnya.

Menurut Puspo, Pemerintah Arab Saudi kini mulai melirik makanan siap saji sebagai salah satu solusi masa depan pelayanan konsumsi jamaah haji karena lebih praktis, higienis, dan mudah didistribusikan.

Selain itu, penerapan aturan yang lebih ketat oleh Pemerintah Arab Saudi terhadap akses masuk ke Mekkah dan Armuzna juga membuat pelaksanaan haji tahun ini dinilai lebih tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, sekarang jauh lebih tertib. Penduduk dan mukimin selain di Mekkah,  yang tidak memiliki izin tidak bisa masuk ke Makkah maupun Armuzna. Ini membuat pelayanan lebih terkontrol dan kepadatan bisa dikurangi,” bebernya.

Kedepan, dia berharap penggunaan produk makanan siap saji dari Indonesia dapat terus dikembangkan pada musim haji mendatang. Selain meningkatkan kualitas layanan, langkah tersebut juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi haji nasional melalui penggunaan bahan baku dan tenaga kerja dalam negeri.

“Kami siap mendukung pemerintah untuk memberikan pelayanan makanan yang lebih baik. Pengalaman di Arab Saudi tidak bisa didapat secara instan karena harus memahami kultur, regulasi, hingga jaringan kerja di sana. Itu yang selama ini kami bangun,” paparnya.

Di balik distribusi RTE tersebut, PT HATI yang merupakan anak usaha Wong Solo Group menjadi salah satu pelopor penyedia makanan siap saji untuk jamaah haji Indonesia.

Selama empat tahun terakhir, perusahaan asal Solo itu telah mengirimkan total 5.342.606 produk makanan siap saji untuk kebutuhan haji.

Rinciannya sebanyak 1.475.000 produk pada 2023, 1.496.010 produk pada 2024, 2.257.430 produk pada 2025, dan 2.042.441 produk pada 2026.

Pada musim haji tahun ini, PT HATI menyediakan makanan siap saji bagi 203.320 jamaah haji asal  Indonesia. Jumlah tersebut terdiri dari 1.041.452 lauk siap saji dan 1.000.989 paket nasi beserta lauk siap saji.

Selain itu, perusahaan juga mengirimkan 150 ton bumbu pasta siap masak untuk pertama kalinya.

Produksi makanan tersebut melibatkan bahan baku dari Indonesia, antara lain 132 ton daging, ayam dan ikan, 2.416.154 butir telur ayam, serta 52 ton rempah-rempah. Proses produksi juga melibatkan lebih dari 500 tenaga kerja.

Puspo menilai pemanfaatan produk dalam negeri untuk konsumsi haji dapat memperkuat ekosistem ekonomi nasional sekaligus meningkatkan kualitas layanan bagi jemaah.

“Makanan itu kebutuhan primer. Kalau makanan sehat, bergizi dan berkualitas, jamaah bisa menjalankan ibadah dengan baik. Sebaliknya kalau tidak diperhatikan, risiko sakit juga meningkat,” katanya.

Seluruh produk PT HATI telah mengantongi sertifikasi halal dan standar ISO 22000. Makanan diproses menggunakan teknologi sterilisasi suhu dan tekanan tinggi sehingga memiliki masa simpan hingga 18 bulan tanpa memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin.

VA PAULO /*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *