Foto : Dokumentasi
MEKKAH, SUARASOLO.id — Pemanfaatan makanan siap saji atau Meal Ready to Eat (MRE) kini menjadi terobosan penting dalam pelayanan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi. Produk kuliner praktis produksi PT Halalan Thayyiban Indonesia (PT HATI) ini terbukti efektif menjawab tantangan logistik dan memastikan kebutuhan pangan jutaan jemaah tetap terpenuhi, terutama saat fase krusial puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Tingginya mobilitas jemaah serta kepadatan jalur distribusi di Tanah Suci kerap menjadi kendala utama katering konvensional. Kehadiran MRE dinilai mampu memangkas rantai distribusi yang rumit sekaligus menjadi solusi adaptif di tengah cuaca ekstrem dan padatnya aktivitas ibadah.
Owner PT HATI, H. Puspo Wardoyo, mengapresiasi pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 yang dinilainya berjalan jauh lebih baik dan lancar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, hal ini tidak lepas dari masifnya pembenahan infrastruktur oleh Pemerintah Arab Saudi serta peningkatan kualitas pelayanan dari Pemerintah Indonesia.

“Kerja sama pemerintah Indonesia dan pemerintah Saudi berjalan sangat baik. Tahun ini saya melihat ada perubahan yang signifikan sehingga penyelenggaraan haji berjalan lebih lancar dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Puspo saat dihubungi via telepon dari Arab Saudi, Minggu (31/5/2026).
Puspo menambahkan, perbaikan fasilitas di kawasan Armuzna berdampak besar pada kelancaran arus jemaah. Di sisi lain, sektor manajemen konsumsi juga terus mengalami lompatan kualitas dari tahun ke tahun demi menjaga stamina jemaah reguler.
Dalam padatnya prosesi Armuzna, makanan siap saji terbukti menjadi penyelamat bagi jemaah. Sifatnya yang praktis membuat jemaah tidak perlu lagi khawatir terikat dengan jadwal ketat atau keterlambatan distribusi makanan segar dari katering lokal.
“Makanan siap saji telah terbukti menjadi solusi efektif bagi jemaah haji reguler maupun saat pelaksanaan puncak ibadah di Armuzna. Produk ini memberikan kemudahan karena dapat dibawa dan dikonsumsi kapan saja dan di mana saja,” terang Puspo.
Secara gamblang dia menjelaskan, tidak sedikit jamaah yang memilih menghabiskan waktu beribadah di Masjidil Haram sejak pagi hingga malam hari.
Dalam kondisi tersebut, akses terhadap makanan terkadang menjadi tantangan karena jarak hotel yang cukup jauh, kepadatan lalu lintas, hingga keterlambatan distribusi konsumsi.
Menurutnya, keberadaan MRE membuat para jamaah tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli makanan di sekitar area Masjidil Haram. Selain lebih praktis, makanan siap saji juga memastikan kebutuhan konsumsi jemaah tetap terpenuhi selama menjalankan ibadah.
Owner Wong Solo Grup itu juga mengatakan konsep makanan siap saji telah digunakan dalam layanan haji Indonesia selama beberapa tahun terakhir dan menunjukkan hasil yang positif. Penggunaannya pun terus meningkat seiring kebutuhan layanan konsumsi yang semakin besar.
Pengusaha asal Solo itu juga menilai ke depan pelayanan konsumsi haji akan semakin mengarah pada sistem yang berbasis teknologi dan standar industri modern. Hal tersebut diperlukan mengingat jumlah jamaah yang terus bertambah setiap tahun sehingga membutuhkan sistem produksi dan distribusi pangan yang lebih efisien.
“Jumlah jamaah yang sangat besar membutuhkan dukungan teknologi dan industri pangan yang memenuhi standar produksi makanan yang baik. Ke depan arahnya pasti ke sana,” kata Founder Destinasi Wisata Kalipepe Land itu.
Terpisah, Menteri Haji dan Umrah RI, Irfan Yusuf, mengatakan pemerintah menyiapkan makanan siap santap Ready to Eat (RTE) sebagai solusi pemenuhan konsumsi jamaah saat puncak pelaksanaan ibadah haji. Skema ini dipilih untuk mengantisipasi tingginya mobilitas jamaah yang berpotensi menghambat distribusi makanan segar, khususnya pada fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Menurut Irfan, pemerintah telah menyiapkan sekitar tiga juta paket makanan siap santap yang diperuntukkan bagi 200.000 jamaah selama enam hari pelaksanaan ibadah haji. Makanan tersebut dipasok dari Indonesia dan didistribusikan untuk mendukung kebutuhan konsumsi jamaah selama fase dengan tingkat kepadatan tertinggi.
“Sebanyak 3 juta paket selama enam hari untuk sekitar 200 ribu orang. Penggunaannya pada tanggal 7 sampai 13 Zulhijah saat tahapan Armuzna karena trafik pergerakan jemaah sangat padat, sehingga digunakan RTE atau ready to eat,” kata Irfan.
VA PAULO /*

