Foto/grafis : Humas Jateng
SEMARANG, SUARASOLO.id — Memperingati Hari Jadi Ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen memperkuat komitmen pemberdayaan pondok pesantren. Melalui program unggulan “Pesantren Obah”, sebanyak 73 santri dan pengasuh pesantren resmi dinyatakan lolos seleksi beasiswa pendidikan tinggi tahun 2026, baik untuk jenjang dalam negeri maupun luar negeri.
Seleksi wawancara dan akademik yang dipusatkan di Kompleks BPSDM Jawa Tengah tersebut menguji berbagai materi, mulai dari kemampuan membaca kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, kepesantrenan, hingga wawasan kebangsaan.

Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Provinsi Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, menyampaikan bahwa dari total 942 pendaftar, 73 peserta berhasil menyisihkan kompetitornya. Penetapan nama-nama penerima telah diumumkan secara resmi pada 3 Agustus 2026.
“Sebanyak 15 orang lolos beasiswa luar negeri untuk jenjang S1 ke negara tujuan seperti China, Mesir (Al-Azhar), dan Yaman. Sementara 58 orang lainnya menerima beasiswa dalam negeri untuk jenjang S1, S2, hingga S3,” terang Hasyim.

Untuk skema luar negeri, Pemprov Jateng menanggung penuh biaya kuliah, visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, dan tiket pesawat pulang-pergi. Sementara untuk penerima beasiswa dalam negeri, bantuan diberikan berupa penanganan Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga delapan semester. Jurusan yang diambil pun beragam, mencakup kedokteran, keperawatan, kesehatan masyarakat, pertanian, hingga ilmu komputer.
Hasyim menyatakan, untuk penerima beasiswa luar negeri akan diberikan biaya kuliah, biaya visa, biaya hidup, asuransi kesehatan, dan bantuan tiket pesawat PP. Untuk dalam negeri diberi beasiswa berupa bantuan uang kuliah tunggal/UKT hingga delapan semester.

Hasyim mengatakan, sejak dibentuk Gubernur pada Nopember 2025 lalu, Pemprov Jateng menugaskan kepada LFSP untuk menjalankan seleksi beasiswa santri dan pengasuh pesantren. Ini perwujudan Program Pesantren Obah, salah satu program unggulan Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wagub Taj Yasin Maimoen.
“Ini kepedulian Pemprov Jateng kepada pesantren di Jawa Tengah. Di luar sana banyak beasiswa, tetapi kemungkinan santri salaf sulit untuk bisa masuk, karena itu pemprov secara spesial memberi kesempatan emas ini. Semoga program ini berkah untuk semuanya,” ucapnya.
Menurutnya, program ini sudah disosialisasikan sejak setahun lalu baik secara daring maupun luring. Informasi program ini dapat diakses melalui aplikasi JNN (Jateng Ngopeni Nglakoni), yang bisa diunduh melalui Playstore atau Appstore. Petunjuk teknis pendaftaran juga bisa diunduh melalui laman www.jatengprov.go.id. Program beasiswa tahun 2026 ini adalah perdana. Tahun-tahun berikutnya akan dibuka lagi.
Di balik angka 73 penerima beasiswa tersebut, ada cerita dan cita-cita yang sedang diperjuangkan para santri dan pengasuh pesantren. Bagi mereka, beasiswa bermakna membuka jalan untuk melanjutkan pendidikan sesuai bidang yang diminati, tanpa harus meninggalkan akar kepesantrenan.
Salah satunya seorang santri asal Kudus, Aqila Keisha Haulina mengaku sangat bersyukur mendapatkan beasiswa tersebut, sehingga ia bisa kuliah di Kedokteran Gigi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Aqila memiliki latar belakang pendidikan pesantren yang kuat. Ia menempuh pendidikan jenjang MTs di MTs Tahfidz Yanbu’ul Qur’an 2 Muria, sebelum melanjutkan pendidikan Aliyah di Madrasah Aliyah (MA) Mu’allimat NU Kudus. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan tinggi sempat dihadapkan pada tantangan besarnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT).
Namun, adanya program beasiswa santri tersebut, membuka harapan bagi Aqila. Melalui beasiswa itu, ia bisa meringankan beban ekonomi orang tuanya dalam membiayai kuliah, sekaligus mampu membantu mewujudkan cita-citanya. Aqila mengungkapkan cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang tenaga medis. Ia berharap kelak dapat menjadi dokter gigi yang memegang teguh integritas, nilai agama, dan rasa kemanusiaan.
“Saya berharap bisa menjadi dokter gigi yang adil, yang sungguh-sungguh, dan tidak melupakan ajaran agama yang sudah saya bawa sebelumnya dengan tetap menerapkan sisi kemanusiaan,” katanya Rabu, 12 Agustus 2026.
Aqila juga mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Jawa Tengah atas penyelenggaraan program beasiswa ini. Ia berharap program tersebut dapat terus ditingkatkan, diperluas cakupan jurusannya, dan kuota penerimanya ditambah. Setali tiga uang, Penerima beasiswa santri lain, Akhmad Khafidz Al Mubarok mengaku, senang dengan adanya beasiswa ini. Dengan begitu ia bisa kuliah S1 bidang Saintek di Dalian University of Technology di China. Itu merupakan salah satu impiannya untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Sangat bahagia karena bisa membantu perekonomian orang tua. Pilih jurusan computer science and technology karena dari kecil sudah minat dan ingin mendalaminya di salah satu pusat teknologi yaitu China,” ujarnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berharap kepada santri memiliki kepercayaan diri. Luthfi menambahkan, program beasiswa santri dan pengasuh ponpes ini harus terus digalakkan. Seluruh kepala daerah di Jawa Tengah juga harus mulai ikut terlibat dalam program ini.

“Saya ngasih beasiswa ke kelompok mahasiswa itu biasa, tetapi santri ini luar biasa karena mempunyai nilai lebih dari yang bukan santri, santri diajarkan tentang toleransi beragama dan apapun tentang aturan kebenaran, ” kata Luthfi.
Sejalan dengan itu, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menekankan bahwa beasiswa tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik. Lebih dari itu, penerima beasiswa diharapkan memiliki keahlian yang nantinya dapat memberikan manfaat langsung bagi pesantren.
Menurutnya, pesantren masih membutuhkan sumber daya manusia dengan beragam keahlian. Mulai dari bidang kesehatan, pertanian, teknologi, hingga pengembangan usaha.
“Pesantren butuh dokter, pesantren butuh usaha pertanian dan lain sebagainya,” ujarnya.
Karena itu, para penerima beasiswa diharapkan tidak hanya mengembangkan keahlian untuk kepentingan pribadi, tetapi juga menerapkannya di lingkungan pesantren dan masyarakat. Taj Yasin mengatakan, salah satu bentuk komitmen penerima beasiswa adalah kesediaan untuk kembali dan berkontribusi kepada pesantren yang memberikan rekomendasi.
Selain beasiswa santri, Pemprov Jateng juga memberikan ribuan tali asih (bisyaroh) kepada santri penghafal Al-Qur’an yang ada di pesantren di provinsi ini. Sejak 2025 lalu, sudah ada ribuan santri yang menerima tali asih sebesar masing-masing Rp1 juta.
Taj Yasin menegaskan tali asih tersebut diberikan tanpa memandang KTP. Siapa saja santri yang menghafal Al-Quran di Jateng, berhak menerima tali asih tersebut. Bahkan, penerimanya selain dari Jawa Tengah ada juga yang berasal dari luar Jateng seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jakarta, Yogyakarta, hingga Kalimantan. Dia berharap, para penghafal Al-Quran akan memberikan berkah kepada jalannya roda pemerintahan di Jawa Tengah.
VA PAULO /*

