OPINI
Oleh : Keysha Aira Septia Ramadhani, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Slamet Riyadi Surakarta
Korupsi adalah salah satu isu yang hingga kini masih menjadi perhatian serius di Indonesia. Praktik korupsi dapat memberikan efek yang sangat besar, tidak hanya mengakibatkan kehilangan finansial bagi negara, tetapi juga bisa menghalangi pembangunan, menciptakan ketidakadilan, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Menurut pendapat saya, untuk memberantas korupsi tidak cukup hanya dengan menjatuhkan hukuman pada para pelakunya. Pencegahan juga harus dimulai dari awal, salah satunya melalui pendidikan yang mengedepankan nilai antikorupsi. Pendidikan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam membentuk karakter individu, karena nilai-nilai yang diajarkan sejak kecil dapat menjadi kebiasaan yang dibawa hingga dewasa.
Dalam artikel Reformasi Aktual dengan judul “Ketua KPK Dorong Pendidikan Antikorupsi Lampung Jadi Pilot Project Daerah Lain”, program pendidikan antikorupsi di Lampung diharapkan dapat menjadi rol model bagi daerah lainnya. Saya percaya bahwa inisiatif ini sangat positif dan seharusnya didukung.
Pendidikan mengenai antikorupsi tidak seharusnya dilihat sekadar sebagai materi tambahan dalam kurikulum, tetapi harus dianggap sebagai salah satu cara untuk menciptakan generasi muda yang memiliki karakter dan integritas yang baik. Sekolah seharusnya menjadi tempat untuk tidak hanya mendapat pengetahuan, tetapi juga untuk membentuk sikap, perilaku, dan kebiasaan yang akan dibawa seseorang dalam interaksi sosial.
Saya meyakini bahwa pendidikan antikorupsi sangat krusial karena perilaku korup dapat bermula dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang terlihat sepele. Contohnya termasuk berbohong, menyontek, mengambil milik orang lain, memanipulasi informasi, bersikap tidak bertanggung jawab, atau mencari keuntungan dengan cara yang tidak adil.
Tindakan-tindakan tersebut meski tidak selalu bisa disebut sebagai korupsi secara resmi, tetapi kebiasaan tidak jujur dan tidak bertanggung jawab perlu ditangkal dari awal. Jika seseorang telah terbiasa dengan perilaku curang yang kecil dan menganggapnya hal biasa, dikhawatirkan bahwa kebiasaan tersebut akan ada saat dia mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar.
Menurut pandangan saya, pendidikan antikorupsi harus lebih dari sekadar memberikan pengetahuan tentang definisi korupsi. Program ini juga harus mengajarkan bagaimana seseorang dapat mengembangkan sikap yang bertolak belakang dengan perilaku korup.
Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan kepedulian harus ditanamkan dalam keseharian. Sebagai contoh, siswa dapat mempraktikkan kejujuran dengan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa menyontek. Mereka juga dapat menunjukkan tanggung jawab dengan menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan serta mengakui kesalahan bila melakukan suatu kesalahan. Dari aktivitas sederhana ini, saya percaya karakter antikorupsi dapat mulai dibangun.
Saya juga berpendapat bahwa pendidikan antikorupsi akan lebih berhasil apabila tidak hanya diterapkan melalui teori di dalam kelas. Jika siswa hanya diminta untuk menghafal definisi korupsi, jenis-jenisnya, serta aturan yang ada terkait korupsi, mereka mungkin belum sepenuhnya mengerti arti penting dari nilai antikorupsi.
Oleh karena itu, sebaiknya pendidikan antikorupsi dilakukan melalui metode yang lebih interaktif dan relevan dengan kehidupan siswa. Contohnya melalui diskusi, studi kasus, kegiatan organisasi, aktivitas sosial, simulasi, atau contoh nyata. Dengan cara tersebut, siswa dapat belajar bagaimana cara mengambil keputusan yang tepat saat menghadapi masalah.
Menurut pandangan saya, lingkungan pendidikan seharusnya menampilkan teladan yang positif. Siswa akan kesulitan untuk mengerti pentingnya integritas apabila mereka menyaksikan ketidakadilan atau ketidakjujuran di sekeliling mereka. Semua pihak di sekolah, termasuk guru, memegang peran krusial dalam menampilkan sikap yang baik. Tugas guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tapi juga menunjukkan perilaku disiplin, jujur, adil, dan bertanggung jawab. Aturan yang ada di sekolah juga perlu ditegakkan dengan konsisten kepada semua siswa. Dengan terciptanya lingkungan yang mendukung, nilai-nilai anti-korupsi akan lebih mudah diterapkan.
Di samping sekolah, keluarga pun memiliki pengaruh yang sangat signifikan dalam membentuk karakter yang anti-korupsi. Saya percaya bahwa pendidikan karakter tidak akan berjalan dengan efektif jika hanya dilakukan di sekolah. Anak-anak juga memerlukan teladan dari orang tua serta lingkungan keluarganya. Kebiasaan sederhana seperti berbicara jujur, mengembalikan barang milik orang lain, bertanggung jawab atas kesalahan, dan tidak mengambil sesuatu secara sembarangan sangat penting.
ADMIN /*

